Monday, February 4, 2019

Cerita Sex : Wati Berkorban Untuk Di Perkosa


Bandar Judi : Untuk mengembangkan usahanya, Abah telah mendapatkan kredit yang lumayan besar dari sebuah bank swasta. Semula, Abah tidak mengalami kesulitan untuk membayar cicilan kreditnya karena hasil yang diperoleh Abah dari perkebunannya yang luas dan modern sangat berlimpah. Karena itulah Abah dapat mengirim aku ke Jawa untuk kuliah di sebuah universitas terkemuka di negeri ini. Namu, musim kemarau berkepanjangan tahun lalu telah menghancurkan semuanya. Semua tanaman di ladang dan kebun Abah mati kekeringan. Karena stress, Abah terkena stroke dan aku pun harus membatalkan niatku untuk melanjutkan kuliah di tingkat S2.

Semakin hari kondisi Abah tambah menurun. Kami sekeluarga harus menjual barang-barang berharga kami untuk biaya pengobatan dan membayar cicilan kredit ke bank. Pada bulan ke-enam, kami sudah tidak punya apa-apa lagi yang dapat kami jual, sementara rumah dan lading sudah diagunkan Abah ke bank untuk mendapatkan kredit sehingga tidak mungkin kami menjualnya.

Sebulan yang lalu, beberapa orang petugas bank datang menagih pembayaran cicilan kredit yang sudah tidak lagi dapat kami bayar selama tiga bulan. Mereka mengancam akan menyita rumah dan lading apabila kami tidak dapat melunasi tunggakan pembayaran dalam waktu dua minggu. Kami hanya bisa menangis, memohon belas kasihan orang-orang bank itu. Namun, mereka hanya petugas rendahan yang tidak memiliki wewenang besar, sehingga mereka tidak dapat membantu kami.

Di tengah kekalutan, datang seorang laki-laki paruh baya yang bersedia membantu kami. Dia adalah salah seorang terkaya di kampung kami, yang juga sekaligus merupakan saingan usaha Abah. Kami mengenal pria ini sebagai Pak Kusrin. Semua hutang-hutang kami dibayar lunas oleh Pak Kusrin pada hari itu juga. Kami semua sangat senang dan berterima kasih pada Pak Kusrin, karena tanpa dia, kami mungkin harus tinggal di kolong jembatan atau emperan toko.
Malam itu Pak Kusrin datang ke rumah kami dan aku menemani Mak untuk menemuinya. Tak disangka, ketika Mak pergi menengok Abah di kamar, Pak Kusrin mengatakan hal yang tidak pernah terlintas di pikiranku.
“Kamu sadar, kan … Wati, Utang abah kamu besar sekali. Saya harus mengeruk tabungan untuk melunasinya. Tentunya saya tidak mau itu dianggap amal jariah. Saya harus mendapatkan sesuatu. Saya ingin mendapatkan kamu, Wati,” kata Pak Kusrin.
“Ma …. Mmaa …maksud Pak Kusrin, bapak mau mengambil saya sebaga istri?” tanya ku terbata-bata.
“Wati … Wati …Kalau saya mengambil kamu sebagai istri, maka hubungan utang piutang di antara kita akan hilang. Saya tidak mau itu. Saya bilang kan tadi saya ingin mendapatkan kamu, tubuh kamu persisnya. Saya ingin menikmati tubuh kamu sampai saya anggap utang itu lunas,” kata Pak Kusrin sambil menyeringai.

Begitu mendengar keinginan Pak Kusrin, Mak langsung meminta Pak Kusrin pergi dari rumah kami, namun Pak Kusrin membalas ucapan Mak dengan mengatakan bahwa dial ah yang sebenarnya berhak untuk mengusir kami dari rumah ini. Pak Kusrin benar dan kami tidak punya alasan lain untuk membantahnya. Aku dan Mak menangis sambil berpelukan. Namun aku sadar bahwa dengan merelakan tubuhku, aku akan dapat menyelamatkan kedua orang tuaku yang sangat aku sayangi. Karena itu, aku mengiyakan permintaan Pak Kusrin.
Malam itu, Pak Kusrin menjadi lelaki pertama yang menyetubuhi aku. Aku merelakan keperawananku untuk membayar utang Abah.

Di sini, di kamar ini, untuk pertama kalinya aku melayani laki-laki. Pak Kusrin bahkan tidak mau repot-repot menghabiskan uang untuk menyewa kamar hotel untuk menikmati tubuhku. Begitu aku mengiyakan niatnya, dia meminta aku bersiap-siap di kamarku sambil menunggu obat kuat yang diminumnya bereaksi. Aku masih duduk di ujung tempat tidur ketika Pak Kusrin masuk ke kamarku. Dia langsung menghampiri aku tanpa peduli bahwa dia membiarkan pintu kamarku terbuka lebar dan kemudian membelai rambutku. Tiba-tiba dia membuka retsleting celananya dan mengeluarkan kontolnya yang sudah tegang. Aku terkesiap. Itu adalah kali pertama aku melihat kontol, dan kontol itu ada di depan wajahku.

Pak Kusrin meminta aku mengulum kontolnya. Dengan tangan gemetar aku memegang kotol Pak Kusrin dan memasukkannya ke mulutku. Air mataku berlinang. Betapa tidak, aku yang berpendidikan tinggi ini pada akhirnya terpaksa harus mengulum kotol laki-laki tua. Pak Kusrin menjambak rambutku dan memaksa aku untuk mengocok kontolnya dengan mulutku. Meski sempat tersedak, aku berusaha untuk menyenangkan lelaki tua bangka ini. Pak Kusrin menikmati layananku sambil mendesah dan mendesis. Setelah beberapa menit berlalu, kotol Pak Kusrin menjadi semakin tegang dan Pak Kusrin memegang kepalaku dengan kedua tangnnya sambil mendorong kontolnya ke dalam mulutku. Dia mencapai klimaks dan air maninya menyembur keluar di dalam mulut ku. Karena kepalaku tertahn kedua tangan Pak Kusrin, aku terpaksa menelan peju yang keluar agar aku tetap bisa bernafas. Sebagian peju Pak Kusrin meleleh keluar dari mulutku ketika Pak Kusrin menarik keluar kontolnya dan tumpah membasahi bajuku.
Kemudian Pak Kusrin meminta aku membuka semua pakaian yang aku kenakan. Pak Kusrin menjadi lelaki pertama yang pernah melihat aku telanjang bulat. Dia memandangi tubuh mulusku sejenak dan meminta aku rebah di atas tempat tidur, sementara dia melucuti pakaiannya sendiri. Dia naik ke atas tempat tidur dan kedua tangannya mulai mengeranyangi dadaku. Dia meremas payudaraku dengan lembut sambil memainkan pentilnya. Aku terdiam bagaikan patung. Aku berusaha untuk mengabaikan rasa geli yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya pada buah dadaku. Salah satu tangannya meraih ke selangkanganku dan membelai lembut memekku. Sementara itu, dia memainkan lidahnya pada salah satu payudaraku. Aku begitu marah pada diriku sendiri karena aku seharusnya tidak menikmati apa yang dia lakukan pada tubuhku, namun aku tidak kuasa menahannya. Pak Kusrin telah memberikan sensasi yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Sensasi yang membuat aku melambung ke awing-awang.

Tanpa sadar aku membuka lebar-lebar kedua pahaku dan mengerak-gerakkan pantatku. Pak Kusrin membuka bibir memekku dan dengan jari-jarinya dia mulai menggosok-gosok itilku dengan lembut. Mulutnya tak henti-hentinya menyedot pentil buah dadaku. Tubuhku sudah di luar kendaliku sendiri karena nafsu birahi telah menguasaiku. Kini aku yang mendesah dan mendesis. Perlahan-lahan kepala Pak Kusrin berpindah dari dadaku, turun ke perutku dan akhirnya dia menempatkan kepalanya di selangkanganku. Kini dengan lidah dan bibirnya dia melahap memekku. Habis sudah pertahananku. Aku kini bahkan menyodor-nyodorkan memekku sambil memembelai dan sesekali merenggut rambutnya. Sensasi yang tak pernah aku rasakan itu begitu indah dan nikmat.

Melihat aku sudah sangat terangsang, Pak Kusrin berhenti dan mengambil posisi di antara kedua pahaku. Kontolnya dia gesek-gesekkan ke itil dan lubang memekku. Aku yang sudah dikendalikan nafsu justru mengangkat pantatku sehingga ujung kotol Pak Kusrin menyodok masuk ke lubang memekku. Aku tersentak. Sensasi yang aku rasakan ternyata jauh lebih nikmat sehingga tanpa sadar aku memohon Pak Kusrin untuk cepat-cepat memasukkan kontolnya ke memekku yang sudah basah oleh cairanku endiri dan liur Pak Kusrin.
“Masukin, Pak … Masukin …. Aku sudah gak tahan lagi,” kataku.
“Hehehehe … Siapa tadi yang menagis tersedu-sedu gak mau melayani aku? Hahahaha … Nih, aku kasih ….” katanya sambil melesakkan kontolnya ke lubang memekku yang masih sempit. “Agak sakit sedikit, kamu tahan ya …”
“Ahhhhhhh …… Shhhhhhh …. Enakkk …Pak,” kataku. Separuh kotol Pak Kusrin kini sudah masuk ke dalam memekku. Dia mengerakkan pingulnya maju mundur dengan perlahan. Aku meracau dilanda kenikmatan yang timbul karena gesekan dinding memekku dengan kotol Pak Kusrin. Tiba-tiba Pak Kusrin mengigit leherku dan menyentak pinggulnya maju sehingga kontolnya masuk semuanya ke memekku.
“Aaaaauuu …. Sakit …. …Pak!” aku tersentak. Selaput daraku kini sudah tembus di dorong kotol Pak Kusrin. Namun rasa pedih di leher dan rasa kaget karena digigit secara tiba-tiba membuat aku tidak terlalu merasakan pedih yang timbul karena sobeknya selaput daraku. Pak Kusrin cuma
terkekeh.

“Gimana? Gak terlalu sakit kan memek kamu?”
“Enggak Pak, tapi pelan-pelan keluar masuknya. Masih agak nyeri …”
Kemudian Pak Kusrin mulai melakukan gerakan memompanya. Awalnya perlahan-lahan dan kemudian semakin cepat.

“Ahhhhh Watiiiii …. Nimaaat bangeeeet ….. “ kata Pak Kusrin.
Aku tidak menjawabnya. Aku terlalu sibuk menikmati persetubuhan itu dan sesekali aku mengangkat pantatku untuk menyambut tusukan kotol Pak Kusrin di memekku. Aku merangkul dan membelai-belai punggung Pak Kusrin. Aku sudah memperlakukan Pak Kusrin seperti seorang suami. Pak Kusrin mempercepat gerakannya dan aku pun semakin melambung ke angkasa. Aku merasakan dorongan yang sangat kuat di bagian rahimku yang membuat aku seperti mengejan. Reluruh otot-otot di tubuhku mengejang. Memekku berdenyut-denyut.

“AAAAAAAAAAH ……. AAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHHHH …” aku menjerit keras ketika aku mencapai orgasme pertamaku. Hal yang semula aku lakukan karena terpaksa untuk menyelamatkan martabat orang tuaku ternyata begitu nikmat. Mungkin ini adalah kompensasi yang diberikan Tuhan atas pengorbananku. Tubuhku begitu rileks setelah puncak kenikmatan bersetubuh itu aku capai. Aku terbujur di atas tempat tidur sambil meresapi setiap sensasi yang aku rasakan.

Pak Kusrin yang belum mencapai klimaks tidak terlalu suka dengan kondisi memekku yang sangat basah serta tubuhku yang lemas tanpa reaksi. Dia mencabut kontolnya dari memekku dan berganti posisi. Dia menempatkan kontolnya di antara kedua buah dadaku. Dia memegang buah dadaku dengan kedua tangannya sehingga kontolnya terjepit kedua benda lembut tapi kenyal itu. Lalu dia menggerakkan pinggulnya dan memperlakukan celah di antara kedua buah dadaku seperti yang dia lakukan pada memekku. Aku yang masih lemas karena orgasmeku hanya terdiam memandangi kepala kotol Pak Kusrin yang timbul tenggelam dari celah itu. Setelah beberapa menit Pak Kusrin mempercepat gerakkannya dan akhirnya air maninya menyembur membasahi wajah, leher dan payudaraku. Dia pun ambruk di sisiku sambil mengatur nafasnya.
“Bukan main! Asyik sekali yang barusan itu ….” kata Pak Kusri sambil kembali mengenakan pakaiannya. “Mulai hari ini sampai batas waktu yang aku tentukan nanti, kita akan sering melakukannya. Kamu harus siap kapan pun saya ingin menyelipkan kotol ini di memek kamu,” sambungnya sambil berjalan meninggalkan aku yang terbujur lemas di atas tempat tidur.
Begitu aku sadar tentang apa yang telah terjadi, air mataku menitik keluar. Aku tidak menyesali pengorbananku, namun aku menyesali mengapa aku begitu menikmati persetubuhan itu. Aku merasa jijik pada diriku sendiri, tetapi aku tidak bisa memungkiri bahwa kenikmatan yang aku dapat dari persetubuhan itu memang begitu indah. Aku bahkan tidak menyeka mukaku yang berlumuran air mani Pak Kusrin yang bercampur air mataku.

Mak yang rupanya sempat menyaksikan detik-detik terakhir persetubuhanku dengan Pak Kusrin dengan setengah berlari menghambur masuk ke kamar dan menghampiriku “Watiiii …… Maafkan Mak dan Abah ya nak. Karena kami kau harus melakukan ini,” kata Mak sambil membersihkan wajah. Leher dan dadaku dari air mani Pak Kusrin dengan sapu tangan yang diambilnya dari meja riasku. (Aku masih menyimpan sapu tangan bernoda air mani Pak Kusrin itu dan sesekali aku menciumi aroma laki-laki yang samar-samar masih tersisa di sana). Aku hanya diam mematung di atas tempat tidurku, tak mapu untuk berkata apa-apa. Mak menutup tubuh telanjangku dengan selimut dan menyuruh aku untuk tidur. Aku pun terlelap sampai pagi.
Sebelum pergi meninggalkan rumah kami, Pak Kusrin sempat menaruh beberapa lembar uang ratusan ribu di atas meja riasku. Aku pergunakan uang itu untuk biaya pengobatan Abah dan makan sehari-hari. Sejak saat itu, aku telah menjadi gundik pemuas nafsu birahi Pak Kusrin untuk waktu yang aku pun tidak tahu berapa lama.

Pagi tadi, ketika aku kembali dari pasar, aku bertemu Pak Kusrin di tengah jalan. Dia sedang berdiri sambil mengobrol dengan Pak Jono, sopirnya. Rupanya Pak Kusrin sedang meninjau pembuatan sumur bor di tengah ladangnya. Jalan di desa kami memang tidak pernah terlalu ramai, sehingga Pak Kusrin bisa memarkir mobilnya di bahu jalan tanpa menghalangi orang yang lalu lalang. Pak Kusrin menyapaku dan meminta aku untuk berhenti sebentar.
“Wah baru selesai belanja rupanya …” kata Pak Kusrin.

“Ya, Pak … Untuk makan siang dan makan malam Abah dan Mak nanti,” jawabku.
“Sini kamu. Aku kepingin sarapan dulu,” katanya sambil menarik tanganku untuk mendekatinya.
Menyadari posisiku yang lemah, aku tidak berani melawan. Begitu aku berdiri di sampingnya, Pak Kusrin membuka retsleting celananya dan aku mengerti apa yang dia mau. Aku berjongkok dan mulai mengulum kontolnya. Sambil terus mengawasi orang-orang yang sedang membuat sumur bor, Pak Kusrin menikmati “sarapan pagi” yang sedang aku berikan. Aku pegang kontolnya dan aku gerak-gerakkan kepalaku maju mundur sehingga kepala kontolnya keluar masuk dari mulutku. Sesekali aku jilati ujung kontolnya sambil beristirahat. Pak Kusrin begitu menikmatinya sehingga dia mengerang, mendesis bahkan kadang bergumam tidak jelas. Suaranya membuat orang-orang yang sedang membuat sumur bor menoleh ke arah kami. Malu juga rasanya ditonton orang, walau hanya cuma beberapa kepala saja.

kotol Pak Kusrin sudah begitu tegang dan keras. Dia meminta aku berdiri dan melepas celana dalamku. Semula aku menolak. “Masak di sini sih, Pak … Kan gak enak ditonton orang,” kataku. “Tenang saja … Ayo cepat buka,” katanya sambil mengocok-ngocok kontolnya dengan tangannya sendiri. Aku angkat rokku dan aku copot celana dalamku dengan hat-hati agar memekku tidak terlihat oleh orang-orang di lading atau Pak Jono yang berdiri tidak jauh dari kami, setelah itu aku lipat dan taruh di keranjang belanjaanku. Pak Kusrin meminta aku berdiri di samping mobil dan menaruh kedua tanganku di atas kapnya. Pak Kusrin kemudian berdiri di belakangku dan menyingkap bagian belakang rokku. Pantatku yang telanjang terasa dingin diterpa angin. Aku malu sekali karena pantatku bisa dilihat oleh banyak orang sekarang. Akan tetapi bayangan akan disetubuhi di udara terbuka dan disasksikan orang banyak membuat aku agak terangsang. Pak Kusrin sempat tersenyum begitu dia menyentuh memekku dari belakang, karena memekku ternyata sudah cukup basah.

“Wah sudah basah nih, sudah kepingin ya?” katanya. “Baguslah, coba bungkukkan badanmu sedikit biar saya gampang masuk,” sambungnya. Aku mnegikuti keinginannya. Badanku aku bungkukkan sedikit sehinga pantatku agak menonjol ke belakang. Kakiku dilebarkan. Akhirnya, hal itu pun terjadilah. kotol Pak Kusrin masuk ke dalam memekku yang masih sempit ini. Pak Kusrin masih agak kesulitan menembus lubang di selangkaganku. Pelan-pelan dengan dibimbing tangannya kotol Pak Kusrin akhirnya melesak masuk. Badanku agak bergetar begitu aku merasakan gesekan kotol Pak Kusrin pada dinding-dinding dalam memekku. Perlahan-lahan Pak Kusrin mulai menggenjot kontolnya keluar masuk memekku.
“Ahhhhh ….. Aaaaahhhhhhh …. Aaaaaaahhhhhhh….” desahku pada setiap tusukan. Aku menggoyang pinggulku untuk mengimbangi genkotan Pak Kusrin. “Shhhhhhh …. Yeeeeeaaahhhhhh …… Aaaaaaahhhh …” aku terus mendesah.
“Nikmat sekali … Goyang terus, Wati … Yaaaa …… Kayak gituuuuu …… Uuuuuuuhhhhhhh …..” kata Pak Kusrin. Tangan Pak Kusrin memegangi pinggangku setiap kali dia mendorong kontolnya masuk ke memekku. Sesekali dia meremas buah dadaku dari balik baju.

Sensasi bersetubuh di pinggir jalan dengan beberapa orang yang menyaksikannya sangat luar biasa buat aku. Aku merasa seperti wanita jalang yang hanya punya satu tujuan hidup: seks. Aku sangat menikmati persetubuhan itu sehingga tanpa sadar aku mengeleng-gelengkan kepalaku sambil terus mendesah, mendesis dan bahkan berteriak. Kenikmatan itu sudah mengambil alih kendali atas tubuhku.


“Lebih cepat, Pak …. Lebih cepat ….. Yeeeeeaaaaaahhhh …. Shhhhh …. Genjot lebih cepaaaaat …. Aku sudah mau keluar …” Pak Kusrin pun memenuhi permintaanku. Kontolnya bergerak lebih cepat keluar masuk memekku. Aku merasa sudah hampir mencapai orgasme. Tubuhku mengejang dan melengkung ke belakang hingga berhimpitan dengan tubuh Pak Kusrin.
“Aku mau keluar Pak …. Aku mau keluaaaaarrrrr …. AAAAAHHHHH …. AAAAAAAAHHHHHHHH …..AAAAAAHHHHHHHHHHH ….” Aku berteriak melepaskan semua rasa ketika orgasme meledak-ledak di dalam tubuhku. Orang yang lewat dan para tukang yang sedang bekerja di lading membuat sumur bor mengalihkan perhatian mereka ke arah kami berdua. Aku sudah tidak peduli lagi. Kenikmatan seksual ini jauh lebih berharga bagiku. Sesaat setelah tubuhku kembali melemas, Pak Kusrin mencabut kontolnya dari memekku dan meminta aku melakukan oral lagi. Hanya beberapa menit saja aku mengulum, mengenyot dan menjilari kotol Pak Kusrin hingga akhirnya kotol itu menumpahkan air mani kental berwarna putih. Sebagian air mani itu membasahi bajuku dan rambutku. Lalu aku menjilati sisa air mani dari kotol Pak Kusrin hingga bersih.
Setelah itu aku membenahi rok dan bajuku dan minta ijin Pak Kusrin untuk pulang. Celana dalam sengaja tidak aku pakai lagi. Di sepanjang jalan, ada beberapa orang yang menoleh ke arahku ketika berpapasan. Aroma air mani segar yang tumpah di bajuku mungkin yang menarik perhatian mereka. Aku terus bejalan tanpa mempedulikan mereka. Sesampai di rumah aku memberika belanjaanku kepada Mak yang bingung melihat ceceran air mani di bajuku. Tapi dia tidak banyak tanya. Selitas aku melihat air matanya berlinang. Aku pun tidak peduli. Kalau memng aku harus menjadi budak seks Pak Kusrin untuk menolong orangtuaku, mengapa tidak sekalian saja aku menikmati setiap persetubuhan yang aku lakukan. Bagaimanapun, aku toh harus melakukannya ….

Hari ini aku kembali membawa Abah ke rumah sakit untuk melanjutkan pengobatannya. Syukurlah, dokter bilang kondisi Abah sudah banyak kemajuan. Aku menyempatkan diri ketika sedang berada di rumah sakit untuk mengunjungi dokter kandungan. Aku minta pada dokter itu untuk memasangkan spiral di rahimku. Semula dokter menganjurkan aku untuk mengurungkan niatku, namun dengan sedikit kebohongan dia pun bersedia melakukannya. Aku katakana pada dokter itu bahwa aku sedang menyelesaikan kuliah S2-ku. Kehamilan pasti akan sangat mengganggu. Entah aku dapat ide dari mana untuk mengarang cerita bohong itu. Dengan spiral di rahimku, aku tidak akan takut lagi persetubuhanku dengan Pak Kusrin berakhir dengan kehamilan.

Setelah beberapa hari tidak menyentuh tubuhku, sore tadi Pak Kusrin bertandang ke rumah. Aku tahu apa maksud kedatangannya dan aku pun sudah menyiapkan diriku untuk kembali melayaninya. Bayangan akan kenikmatan orgasme membuat aku menjadi bergairah. Aku sambut Pak Kusrin di pintu depan dan menyilakannya duduk di ruang tamu. Setelah menghidangkan secangkir teh, aku menemani Pak Kusrin berbicang-bincang sebentar.
“Wati, kita ngewek di taman belakang sana yuk …” kata Pak Kusrin. “Sudah lama kan kita gak ngewek.” “Terserah Bapak saja … Saya kan gak bisa nolak,” jawabku pasrah. Pak Kusrin bangkit dari kursi tamu dan menarik tanganku untuk mengikutinya ke taman belakang rumah. Taman di belakang rumah tidak terlalu terbuka. Pagar sampingnya lumayan tinggi, tetapi bagian belakangnya sengaja hanya dipagari dengan pohon perdu setinggi pinggang yang selalu dipangkas rapi. Di taman itu, ada beberapa buah kursi taman dari batu tanpa sandaran serta sebuah meja batu besar. Di sekelilingya ditumbuhi berbagai tanaman hias dan bunga. Ah, bersetebuh di udara terbuka, membayangkannya saja aku sudah terangsang. Tanpa disentuh pun, memekku sudah basah ….

Pak Kusrin meminta aku menanggalkan semua pakaianku. Dia agak kaget melihat ternyata aku sudah tidak memakai celana dalam. Setelah tidak ada benang sehelai pun yang menempel di kulitku, Pak Kusrin meminta aku duduk di pinggir meja batu besar. Dia juga mencopot pakaiannya, sehingga kami pun berdua bugil seperti bayi baru lahir. Dia berjongkok di hadapanku dan mengangkat kedua kakiku. Ternyata dia ingin menciumi dan menjilati memek dan itilku. “Ssssshhhhhh …. Yahhhhhhhhhh ….. Itilnya, Pak ……… Itilnya ………… Yahhhhhh ……. Ohhhhhhhhhhhh ………” kataku sambil terus mendesis menikmati setiap sapuan lidahnya di itilku.

Setelah memekku benar-benar basah, Pak Kusrin duduk di salah satu kursi batu dan meminta aku duduk di pangkuannya. Dengan mudah kontolnya masuk ke memekku ketika aku menurunkan pantatku. Dengan bertumpu pada pundak Pak Kusrin aku bergerak naik turun sehingga kotol Pak Kusrin bergerak bebas keluar masuk memekku. Sebentar saja aku sudah tenggelam dalam kenikmatan birahi. Aku terus mendesah dan mendesis. Ternyata Pak Kusrin sangat menyukai tingkahku setiap kali dia menyetubuhiku. Istrinya atau wanita lain yang sering dia setubuhi biasanya hanya diam saja menerima segala perlakuan Pak Kusrin. Desahan dan teriakanku membuatnya lebih bergairah. Sambil duduk seperti itu, itilku selalu bergesekan dengan jembut Pak Kusrin yang kasar setiap kali aku bergerak turun.

Setelah bermain dengan posisi duduk selama beberapa puluh menit, Pak Kusrin meminta aku rebah di meja batu besar dan dia pun menyodokkan kontolnya ke memekku sambil berdiri. Kedua kakiku dilipat ke atas dan ditopang oleh kedua tangannya. Dengan begitu, memekku menjadi menyembul ke atas dan lebih keras menjepit kotol Pak Kusrin. “Aaaaahhhhhh …… Ini baru enaaaaaakk ….” Kata Pak Kusrin sambil terus menggenjot pinggulnya. “Genjot yang kuat, Pak …. Ayo … dong ….” Kataku memberi semnagat. Satu tanganku menjulur ke bawah untuk meraih itilku sendiri. Sambil terus menikmati setiap tusukan kotol Pak Kusrin di lubang memekku, aku menggosok-gosok dan memilin-milin itilku. Sementara tangan yang satu lagi aku pergunakan untuk memilin-milin pentil buah dadaku.

Tanpa sadar mulutku terbuka lebar mendapatkan kenikmatan rangsangan itu. “Ahhhhhh … ahhhhhhh …. Ahhhhhh ….. ahhhhh ….” Keluar dari mulutku setiap kali Pak Kusrin menyodokkan kontolnya. “Kocok yang cepat, Pak … Lebih cepat, lebih cepat …. Tolong, Pak … Kocok lebih cepaaaattt ….. Aku sudah mau keluaaaarrrr ……Ahhhhhh ……” seperti yang sudah-sudah Pak Kusrin pun memenuhi permintaanku. Dia menarik dan mendorong kontolnya lebih cepat. Ergesekan kotol Pak Kusrin dan memekku mengeluarkan bunyi berdecak-decak. Tubuh kami sudah bermandi keringat. Entah pada sodokan yang keberapa aku pun mencapai orgasme. “AAAAAAHHHHHHHHHHHHHH …………… AHHHHHHHHHHHHHH …. AAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHH ….. EENNNNNNAAAAAKKKKKHHH !!!” teriakku. Kakiku kaku menjulur ke atas dan pahaku mengatup. kotol Pak Kusrin tak bisa lagi bergerak. kotol itu berdenyut-denyut di dalam memekku dan akhirnya menyemburkan cairan kental memenuhi rahimku. “AAAARRRRGGHHHHHH ……” Pak Kusrin pun berteriak sambil memancarkan cairan spermanya. “WATIIIII …. SAYA JUGA KELUARRRRR…”

Pak Kusrin tertunduk lemas sambil bertopang pada meja batu dengan kedua tangannya. Kedua kakiku kini menjuntai lemas. Namun Pak Kusrin sepertinya sengja tidak mencabut kontolnya dari memekku. Bahkan dia beberapa kali mendorongnya agar masuk lebih dalam. Ketika kontolnya sudah benar-benar lemas lunglai, barulah Pak Kusrin mencabutnya dan rebah disampingku.
“Wati, kamu tadi menjepit kotol saya sehingga saya tidak bisa mencabutnya. Air mani saya tumpah semua di dalam memek kamu. Apa kamu sengaja agar kamu hamil?” tanya Pak Kusrin. “Tenang Pak. Aku sudah pasang spiral . Kecil kemungkinannya aku hamil,” jawabku. “Ohhhh … sukurlah. Aku agak kaget tadi,” kata Pak Kusrin lega dan untuk pertama kalinya dia mencium keningku.

Setelah merenggut keperawananku dan menyetubuhiku berulang kali, inilah kali pertama Pak Kusrin menciumku. Aku memegang wajahnya dan membelainya. Entah siapa yang memulai, kami kemudian berpagutan. Kami berciuman dengan lembut dan tidak tergesa-gesa. Indah sekali … Lima menit kami berciuman. Lidah kami bertemu dan bergelut di dalam mulutku. Karena ciuman itu Pak Kusrin dan aku kembali terangsang.

Tangan Pak Kusrin kembali beraksi meremas payudaraku dan memainkan itilku secara bergantian. Sementara aku membelai dan mengocok kotol Pak Kusrin agar tegang kembali. Begitu kontolnya kembali tegang, aku mendorong Pak Kusrin agar rebah di atas meja batu dan aku naik ke atas tubuhnya. Dengan sekali sentakan, kotol Pak Kusrin kembali masuk ke memekku yang masih basah oleh air maninya tadi. Dan kami pun terhanyut kembali dalam gelombang birahi Desahan dan teriakan kenikmatan kembali keluar dari mulut kami.

Sore itu, dua kali Pak Kusrin menumpahkan air maninya di dalam memekku dan dua kali pula aku menguyur kotol Pak Kusrin dengan cairan memekku ketika kami orgasme. Setelah puas, Pak Kusrin kembali berpakaian dan pamit pulang. Tak lupa dia menyelipkan beberapa lembar uang ratusan ribu di tanganku. Aku menerimanya. Aku butuh untuk pengobatan Abah, membayar listrik dan makan sehari-hari.

Aku sengaja tetap tinggal di taman belakang, rebahan di atas meja batu, telanjang bulat. Air mani Pak Kusrin menetes keluar dari memekku. Mungkin aku sempat terlelap di atas meja batu itu, karena begitu aku tersadar tubuhku sudah tertutup kain batik. Mungkin Mak yang menyellimuti aku tadi. Aku pun bangkit dan pergi ke kamar mandi untuk memberihkan badanku dari keringatku dan keringat Pak Kusrin. Setelah itu, aku masuk ke kamar dan rebahan di atas tempat tidur hanya berbalut daster. Aku mencoba memutar kembali rekaman persetubuhan kami tadi dalam benakku. Nikmat sekali …. Sejenak aku bisa melupakan semua kesulitan dan masalah yang membelit keluargaku. … Terima kasih, Tuhan…

Aku mendapat kabar dari Pak Jono tadi siang ketika dia membawakan satu kardus penuh berisi jamu-jamuan untuk wanita bahwa Pak Kusrin dan istrinya bertengkar hebat karena ada yang melaporkan “kegiatan” kami berdua di pinggir jalan tempo hari. Istri Pak Kusrin mengancam untuk mengajukan gugatan cerai, tapi Pak Kusrin cuma tersenyum saja mendengar ancaman itu. Aku sempat bingung ketika Pak Jono bilang terima kasih kepadaku. Ternyata setelah pertengkaran itu, istri Pak Kusrin sudah beberapa kali mengajak Pak Jono bersebadan.
“Saya sebenarnya berharap bisa ngewek sama Neng Wati, tapi itu kan gak mungkin. Tapi, dapat sering-sering ngewek sama Ibu saja saya sudah senang … Hehehehe … Buat selingan, Neng. Bosan juga sama yang di rumah,” kata Pak Jono.

Tadi sore Pak Kusrin datang berkunjung untuk mendapatkan pelayanan seperti biasa. Kali ini dia tidak pakai basa-basi lagi. Begitu aku duduk di sampingnya di sofa, dia langsung menyergap aku dan kami pun berciuman. Selama beberapa puluh menit bibir dan lidah kami bertautan. Sementara itu tangan Pak Kusrin terus bergerilya di setiap bagian tubuhku. Baju kami pun stu per satu lepas dari badan kami, sehingga kami berdua benar-benar telanjang seperti bayi yang baru lahir.

Di sana, di atas sofa di ruang tamu, ketika sinar matahari sore masih menerangi ruangan itu, aku dan Pak Kusrin kembali terhanyut dalam panasnya gelora birahi. Tanpa mempedulikan bahwa kami dapat menjadi tontonan orang yang lewat di jalan depan rumah, kami terus bergelut di atas sofa yang kini mulai basah dengan keringat kami.

Pak Kusrin mendorong tubuhku hingga rebah di sofa. Kedua kakiku diangkatnya, lalu disangga dengan bahunya. Perlahan-lahan dia mengarahkan kontolnya ke memekku. Aku membantu membimbing ujung kotol Pak Kusrin agar tepat sasaran. Sekali dorong, kotol Pak Kusrin pun menerobos masuk liang sanggamaku. Sambil memegang kedua betisku,Pak Kusrin mulai melakukan gerakan maju mundur sehingga kontolnya timbul tenggelam dalam memekku. Buah dadaku berguncang-guncang seirama dengan setiap sodokan kotol Pak Kusrin ke dalam memekku.

Aku meraih sebuah bantal sandaran sofa untuk menyangga kepalaku. Dengan posisi begitu, aku bisa melihat gerakan kotol Pak Kusrin yang keluar masuk memekku. Setiap kali Pak Kusrin mendorong masuk kontolnya, memekku menjadi agak kempot dan ketika kotol itu ditarik keluar, memekku menjadi agak gembung. Aku sangat terkesan dengan apa yang aku lihat di selangkanganku. Semua itu membuat aku semakin terangsang.

“Kamu suka melihatnya, Wati?” tanya Pak Kusrin sambil terus bergoyang. “Ahhhhhh ……Iya, Ahhhhhhhhh …….. tapi aku lebih suka rasanya. Ahhhhhh …. Yeahhhhh …. Sssssshhhh …. Yeahhhhh …. Ahhhhhhh ….” Jawabku di sela-sela desahan kenikmatan. Setelah sekitar sepuluh menit, kakiku terasa pegal. Pak Kusrin menekuk lututku sehingga sekarang pahaku bertumpu pada perut dan dadaku. Namun baru lima menit disodok dengan posisi seperti itu, gentian Pak Kusrin yang merasa pegal dan dia minta ganti posisi. Aku menyuruhnya berbaring di sofa dengan kedua kaki lurus di atas sofa. Aku naik ke atas tubuhnya dan menancapkan kontolnya kembali ke memekku. Aku merasa seperti seorang koboi yang sedang menunggang kuda.

“Oooooohh … yeahhhhhhh …. Hussss …. Hussssss,” kakatu sambil bergaya seperti koboi. “Ya … Goyang terus, Wati …. Enak sekali …. Teruuuuuss ….” Ujar Pak Kusrin sambil menggapai buah dadaku dan meremasnya.

Aku terus menggerakkan pantatku naik turun sehingga kotol Pak Kusrin bisa terus bergesekan dengan dinding-dinding dalam memekku. Setiap gesekan memberi kami sensasi yang luar biasa dan tidak terbayang nikmatnya. Keringat semakin deras mengucur dari tubuh kami. Aku mempercepat gerakkanku karena kau merasa sudah hampir mencapai klimaks. “Ahhhhh …. Ahhhhhh … Ahhhhhh ….. Aku sudah mau sampai, Pak …. Aahhhhh …. Ahhhh …” kataku. “Saya juga ..” kata Pak Kusrin sambil menggerakkan pantatnya sehingga gesekan antara memekku dan kontolnya semakin cepat. Tak lama kemudian puncak itu pun tercapai. “YEEAAAAHHHHH…. AAAAAHHHHHHHHH …….AHHHHHHHHHHH,” kami pun berteriak bersamaan melepas semua rasa. Badanku mengejang dan menekuk ke belakang sehingga aku harus bertumpu pada kedua kaki Pak Kusrin yang juga menjadi kaku. Tubuhku bergetar hebat dan akhirnya aku tumbang dan rebah di atas dada Pak Kusrin. Nafas kami memburu cepat, secepat detakan jatung kami.
Kami berpelukan dan kembali berciuman selama beberapa menit. Tangan Pak Kusrin mengelus-elus punggungku sementara aku terus berbaring di atas badannya. Aku biarkan kotol Pak Kusrin tetap di dalam memekku walaupun kotol itu sudah tidak lagi tegang. Aku ingin lebih lama merasakan kehadiran kotol itu di memekku. Ketika akhirnya aku bangkit berdiri, air mani Pak Kusrin yang bercampur cairan dari memekku sendiri merembes keluar dan mengalir di sisi dalam kedua pahaku. Aku duduk di sofa dan aku biarkan cairan kami itu membasahi sofa.

Setelah berpakaian kembali, Pak Kusrin menghampiriku yang masih terduduk lemas di sofa dan telanjang bulat. Pak Kusrin mengecup keningku dan mengucapkan terima kasih atas kenikmatan yang baru saja dia dapatkan dari tubuhku. Sebelum melangkah keluar, Pak Kusrin seperti biasa mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu dari dompetnya. Kali ini uang itu dia gulung dan diselipkannya ke dalam memekku yang masih saja mengucurkan sisa-sia air maninya.

Setelah hilang lemasku, aku raih pakaianku yang terserak di lantai dan berjalan masuk menuju kamarku sambil tetap telanjang. Setelah melempar pakaianku ke atas tempat tidur, aku ambil selembar handuk. Aku keluar kamar dengan handuk di tangan menuju ke kamar mandi. Di ruang makan, aku bertemu Mak. Aku berikan uang pemberian Pak Kusrin yang telah basah terkena air mani dan cairan memekku tadi ke Mak. Hari ini, uang yang kami butuhkan untuk makan itu benar-benar keluar dari memekku.

Cerita Sex : Tempat Dosen Jadi Tempat Ngentot


Bandar Judi : Pengalaman ini terjadi sekitar 15 tahun yang lalu, Saya baru saja lulus SMA dan sedang bersiap untuk mendaftar di perguruan tinggi. Saya pria yang cukup tampan, pintar, dan menengah. Panggil saja aku, Budi

Sementara di SMA, saya punya teman yang selalu bermain bersama. 4 anak laki-laki dan 7 perempuan. Sebagian besar teman saya kuliah di luar negeri karena sekolah saya adalah sekolah elit di kota J yang menghasilkan siswa dengan hasil pascasarjana yang baik.
Karena saya berasal dari keluarga kelas menengah, pilihan sekolah untuk LN menjadi tidak mungkin. Dari kelompok kami hanya 3 teman perempuan yang meninggalkan saya. Kami bingung kemana harus pergi, tapi akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke kota B yang memiliki beberapa perguruan tinggi swasta dan negara ini cukup terkenal.
Saya, Rika, Nova, dan Jenni memutuskan untuk masuk bersama ke kota B. Di sinilah petualangan kita dimulai. Kami berkumpul di rumah Jenni dan orang tuanya meminjamkan mobil untuk kami pakai. Kami sering berkelompok dengan meminjam mobil orang tua dan kadang-kadang menginap beberapa hari di luar kota. Jadi ketika kami pergi, orang tua dari teman-teman saya dengan tidak jelas membiarkan anak perempuan mereka pergi ke kota B dan menghabiskan tiga malam di sana.
Perjalanan ke kota B berjalan lancar dan kita menghadapi ujian dengan keyakinan tinggi. Maklum, kita semua termasuk yang berotak kurus. Sore hari setelah kami menyelesaikan ujian masuk, kami segera mencari penginapan yang terkenal dengan daerah sejuk di sekitar kota B. Kami menyelesaikan administrasi dan langsung menuju kamar kami.
“Wah, ternyata kamarnya bagus juga! Ada ruang tamu lain,” kataku. “Budi, kamu tidur di sofa aja yah! Kami berdua tidur!” Kata Nova. “Baiklah … Cheat … kali ini aku tinggal bersama wanita di satu ruangan! Siapa tahu …” keluhanku. “Aku mau ..” Jenni berkata sambil mendorong tubuhku menuju sofa.
Kita semua jatuh pantat kita di sofa sambil unwinding. Setelah berbicara selama setengah jam tentang soal ujian siang ini, kami bergantian untuk mandi untuk menyegarkan diri. Kami juga memesan makan malam dari layanan kamar karena kami terlalu lelah untuk pergi makan. Rika akan ke sini besok pagi dan bertemu di kota B. Dia sudah masuk ujian masuk seminggu yang lalu. Pilihan universitas berbeda.
Oh ya, saya belum menjelaskan kemunculan teman-teman saya. Rika: Gadis ini pemalu dengan tubuh kecil yang sangat cantik. Saya tahu ini karena Rika sangat suka memakai gaun yang menunjukkan lekuk tubuhnya. Bangku berukuran sedang, 34B (saya tahu setelah melihat BH-nya dan BH lainnya nanti). Kecil imut adalah kesan yang dia berikan. Senyumnya begitu manis.
Nova: Gadis ini juga kecil tapi dengan dada yang terlihat jauh lebih besar dari milik Rika. Ukuran bra 34C. Mulutnya kecil dengan bibir tipis yang memberi senyum menggoda. Hampir semua anak laki-laki di sekolah saya mengejarnya. Manis dengan payudara besar. Siapa yang tidak tertarik?
Jenni: Seorang gadis jangkung yang suka memakai baju longgar dan berjiwa bebas. Menyenangkan bertukar gagasan, cerdas, dan tomboi kecil. Itu adalah olahraga yang hebat dan sangat bagus di bola voli. Terbaik untuk menjadi lawannya di lapangan. Posisi saya sebagai tosser sering membuat saya tetap di depan jaring dan bertatap muka dengan Jenni. Posisi siap menerima bola dan kemeja longgar kerap mengganggu konsentrasi saya di lapangan.
Jenni: “Apa yang kamu lakukan? Baru jam 6 kita selesai makan malam.”
Nova: “Kami bermain kartu aja yuk”
Budi: “apa kamu membawanya?”
Nova: “bawa aku Rika, ayo kita main poker aja pakai uang tiruan aja, sebut saja taruhannya.”
Kami bermain selama satu jam saat Nova mengetuk.
Nova: “Nggak menyenangkan ya .. bosan .. bagaimana kalau dibuat lebih seru?”
Budi: “Maksudmu, Nov?”
Nova: “Strip poker !!”
“Crazy you, Nov!”
Nova: “Kaga berani?”
Saya kembali tercengang dengan keberanian gagasan Nova.
Jenni: “Siapa yang takut? Beraninya kau punya Budi!”
Pipiku memerah dan terasa panas. Ada juga rasa malu.
Glek .. aku menelan ludah. Mungkin saja dua gadis cantik cantik itu akan telanjang di hadapanku.
Nova: “Jangan berani, Bud? Diam saja. Malu yah telanjang di depan cewek?”
Wow, otak saya berputar cepat. Harus memikirkan semua kemungkinan. Jangan biarkan saya kalah dan tidak melihat cewek telanjang.
Budi: “Dare! Tapi kalau begitu curang, kaga berani buka nyata!”
Nova: “Jika ada yang berani kita buka, kita semua terbuka secara paksa! Apakah kamu setuju?”
Kami semua mengangguk setuju.
Jantungku berdegup kencang dan kegelapan mulai mengeras karena kemungkinan kejadian itu terlihat.
Budi: “ya dah dah .. aturannya bagaimana ya nov?”
Nova: “Kita semua punya modal 1000. Taruhannya adalah setiap pengganda 10 dan yang terbesar 100. Jika modal 1000 habis, baju gadai untuk 500. Setuju?”
Kita semua setuju.
Budi: “Kami bermain sampai kapan? Sampai satu orang telanjang atau sampai telanjang?”
Nova: “Sampai semua bugil telanjang! Biarlah adil !!”
Jenni: “Baiklah, tapi kasihan Budi dong. Dia hanya punya tiga baju. Arti hanya kaos, celana dan celana dalam.
Kami cewek berlebih bra. ”
Nova: “Iya iya … ya mari kita bersikap adil, kita semua melepas BH deh.”
Nova segera dengan cekatan melepaskan bra merah terangnya tanpa melepaskan kaus dan melemparkan bra ke wajahku.
Bau BH memenuhi hidungku. Aku tidak menyadari bra kedua mendarat di wajahku. Ini milik Jenni.
BH dengan warna skin cream.
Hahahahaha … kita juga tertawa bersama.
Nova: “Mari kita mulai! Benar, Bud? Kita masing-masing hanya punya modal 3.”
Budi: “tunggu sebentar .. baju yang sudah dilepas bisa dipakai lagi ga?”
Nova: “Hmm … TIDAK UP! Ada apa, kamu tidak bisa menggunakannya lagi!”
Budi: “Kalau sudah bosan kalah lagi bagaimana? Uangnya hilang!”
Nova: “Banyak dari Anda, Bud! Bagaimana kabar Jen?”
Jenni: “Bisa dipegang-sama sama menang. Tunggu selama 1 menit!”
Ngomong-ngomong ya peraturan … tapi otak saya sudah mulai pindah ke alat kelamin ..
“Pegang ah doang ah ah ah, bagaimana kalau dadanya mengisap-hisap!”
Nova: “Yuck you, Bud …. Mau dong !!” Dengan suaranya yang manis sambil melirik naughly padaku! ”
Jenni dan Nova tertawa terbahak-bahak.
Nova: “Tapi jika Anda telah telanjang dan hilang, Bud? Saya mengesahkan titit yah !!”
Jenni: “Saya ingin mengisap titit Budi!”
Sama sekali tak terduga 3 tahun bersama di SMA, saya juga tidak mengira teman saya nakal juga.
Permainan dimulai.
Keterampilan bermain poker strip di komputer ternyata sangat berguna.
Jenni segera kehilangan modal awal sehingga harus menggadaikan modal berikutnya.
Jenni hendak membuka celananya, tapi dicegah oleh Nova.
Nova: “Nah kaga boleh jadi celana nentuin yang terbuka. Budi, apa yang kamu mau Jenni buka?”
Wow, terima kasih Nova !! Aku ingat bahwa mereka berangkat dari BH, tentu saja dengan melepas kaus itu, dada Jenni akan terbuka.
Budi: “Tentu saja t-shirt, kapan lagi bisa melihat payudara dari dekat!”
Jenni dengan malu-malu mulai melepaskan bajunya dan segera menutup putingnya dengan satu tangan.
Saya kagum dengan pemandangan indah yang terlihat. Strip poker animasi di game komputer tidak seindah itu
Pemandangan terlihat.
Nova: “Jen .. dimana bisa ditutupi dadanya terbuka! Please!”
Nova segera menghubungkan tangan penutup payudara.
Jenni sedikit memberontak saat wajahnya memerah. Jenni tertarik pada tangannya,
Menampilkan payudara terbuka dan menggantung indah di depan wajahku. Glek .. aku menelan ludah.
Jenni: “Bud, diam dong .. Waktu buka gitu buka dadaku.”
Jenni dan Nova tertawa. Hal ini membuat Jenni begitu santai dan pasrah dadanya diplester dengan jelas.
Nah kalau mereka serius seperti ini, lebih baik kalah. Mengingat kekalahan itu terus berlanjut, titit saya akan tersedot selama 1 menit setiap kekalahan.
Hahahaha .. otakku juga kotor.
Lalu permainan berlanjut. Segera saya membuat diri saya telanjang.
Celana dalam saya terbuka perlahan menunjukkan titit yang telah mengeras sejak terakhir.
Saat itu, Nova, dengan payudaranya hanya montoknya tinggal celana.
Kedua gadis itu memperhatikan celana dalamku dengan hati-hati sambil menahan nafas menunggu tititaku terlihat sepenuhnya.
Nova: “Wow itu susah, Bud! Bagus lho bentuknya!”
Budi: “Seberapa keras … lihat dua pasang payudara yang bagus!”
Ternyata Nova tidak tahan lagi. Saya segera memukulnya dan mengarahkan titit saya secara langsung.
Nova mulai mengocok tit saya dengan sesekali menjilat. Tentu saja saya tidak tinggal diam.
Tanganku mulai meremas payudara Nova yang sedang.
Tidak cukup dengan meremas, akhirnya aku meraup payudara kiriku dan mulai mengisapnya.
“Ahh .. enak banget, Bud terus hisap ..”
Sambil mengisap payudara Nova, tanganku mulai melepaskan celana dalamnya. Karena saya tidak ingin melepaskan isap, tentu saja melepaskan celana dalam jauh lebih keras. Nova membantu dengan melepaskan celana dalamnya sendiri.
Tititku yang menjadi terpisah dari pegangan Nova, segera disambut Jenni dengan kulumannya.
Apa mimpi malam itu? Kedua gadis itu sudah mengisap titit saya.
Kami pindah ke tempat tidur. Aku berbaring di tempat tidur dengan titit langit-tinggi.
Nova terus memberikan payudaranya untuk isap saya dan Jenni kembali menyedot titit saya.
Tanganku mulai melakukan gerilya ke vagina Nova. Basah. Licin.
Saya mulai menggesekkan jari saya ke klitorisnya. Licik
Nova mendesah dengan senang yang ia alami di bawah.
Jenni yang melihat Nova mengalami kenikmatan, mengubah posisi pantatnya ke wajahku.
Body jenjang memang membuat posisi hampir 69 sangat mudah terjadi.
Tanganku mengusap vagina Jenni yang juga sangat basah. Tangan kiri di vagina Jenni, tangan kanan di vagina Nova.
Kukocok keduanya dengan kelembutan yang tumbuh lebih cepat.
Jenni dan Nova blingsatan dibuat. Jenni bergetar hebat sampai dia melepaskan payudaraku dan mengerang
Panjangnya sangat seksi. Nova diikuti dengan teriakan yang tak kalah seksi.
Keduanya jatuh ke kanan kiriku dengan lemas.
Saya sudah tegangan tinggi tidak mau diam. Aku pergi ke Nova dan membuka selangkangannya.
Terlihat sangat bersih pussy indah. Rambut halusnya sangat seksi.
Aku mulai menggosokkan kepala tititaku ke vagina Nova. Ah … .. apik dan bagus.
Aku belum pernah merasakan kenikmatan seperti ini sebelumnya.
Nova yang mulai merasa senang, mulai bereaksi dengan menggerakkan pinggulnya ke irama gesekan.
Nova semakin mengoceh … “Oohhh … aahhh … ohh..saya … tuhan … .. Bud benar-benar Bud”
“Keep Bud … Delight … ahhh … aahhHHH …. .AAAHHHHHH … Gila .. sangat bagus Titit lu Bud !! Aku pernah ke sana”
“Gesit baru aja dah bagus gini yah, Bud … bagaimana kalasukin yasuk? Masuk deh Bud ..”
“Serius lu, Nov? Lu ingin aku jadi perawan? Aku benar-benar gairah.”
“Yeah, Bud … aku ingin merasakan titit lu di dalam diriku … bagus di luar, apalagi di dalam.”
Saya tidak berpikir lama lagi .. segera mencoba masuk ke vagina Nova.
“Oww .. perlahan Bud .. sakit tau !!”
“Ok, Nov .. saya melambat”
Perlahan kepala tititku mulai tenggelam di vagina Nova.
Terasa macet. Saya tidak berpengalaman memikirkan mengapa tidak di yah?
“Nov, sudahkah kamu masuk?”
Nova mulai meringis kesakitan, “Saya tidak berpikir begitu … tapi tetaplah terus.”
“Lu yakin, Nov? Saya rasa ini sangat menyakitkan.”
“Teruslah pergi, Bud, aku hanya ingin menyita lu di dalam diriku.”
“Iya saya sudah .. saya tetap nih ..”
Dengan tiga buah polong keras disertai erangan Nova, titrasi saya akhirnya masuk sepenuhnya.
“Wow .. Nova … saya rasa titit saya dah masuk semua ya”
“Ya .. Bud …” sambil menahan rasa sakit “hening dulu, Bud .. jangan digerakin dulu .. aku masih rada sakit ..”
Ahh .. kenikmatan vagina perawan .. titit saya terasa benar-benar diremas oleh vagina Nova yang sempit.
Tanpa menyadarinya, saya mulai menggerakkan pantat saya pelan.
Masuk perlahan.
Nova mulai bernafas teratur dan mulai menikmati kocokan lembut di vaginanya.
“Perlahan yeah Bud … masih sakit tapi sudah bagus ya ya … vagina saya benar-benar terisi penuh titit lu”
Jenni yang telah menonton menunjukkan pandangan tak percaya.
“Gila lu keduanya .. benar-benar sial ya?”
Jenni mendekati tempat kejadian dan mengamati dengan saksama.
“Gila .. gila .. titit lu benar masuk ke vagina Nova, Bud!”
“Ya Jen .. Bagus kok .. Nova vagina .. aku bisa kecanduan ngentot nih.”
Tiba-tiba ada keinginan yang luar biasa untuk segera sampai ke sini .. Aku mempercepat goyahku.
Nova bahkan lebih mendesah menggila. “Ahhh … Ohhh … Ahhh … Ohhh … Bud .. aku mau lagi ya”
“Barong Nov .. aku juga mau ..”
Di kepala saya saya tidak ingat pelajaran Biologi, jika sperma memenuhi telur akan menghasilkan zygot yang akan berkembang menjadi bayi.
“Ayo .. Bud … kita bbaaareeennggg ….”
Croootttt … croottt .. croottt … Tiga kali aku menyemprotkan air mani ke rahim Nova.
Ahh … ini adalah perasaan yang indah … kenikmatan bercinta dengan seorang gadis muda yang cantik.

Masturbasi sama sekali berbeda. Hubungan langsung lebih menyenangkan. Aku langsung jatuh lemas ke samping Nova.
Jenni yang melihat pertunjukan live bagaimana cara bereproduksi mulai mendekati titit saya lagi dan mengisapnya dengan lembut.
Nafasku terengah-engah perlahan tertata rapi sambil menikmati embusan Jenni.
Shuffled perlahan tapi pasti membuat titit saya menjadi tegang lagi.
“Bud, jangan, saya ingin saya menggesekkan vagina saya.”
“Ya, Jen.”
Jenni mengambil posisi WOT dan mulai mengusap vaginanya dari tititku.
“Bagus sekali, Jen”
Ganteng Jenni yang lembut membuat payudaranya bergetar dengan anggun. Pemandangan yang sangat indah.
Jenni adalah salah satu wanita impian saya. Tinggi, gemuk, atletis, bercanda, dan baik hati.
Sekarang dia menggesek alat kelaminnya dengan kegelapan. Ah .. kepengen masuk d.
Segera putar posisi jadi saya sekarang di atas.
Aku membuka kakiku lebar-lebar. Vagina yang terlihat sangat indah. Bahkan lebih cantik dari pada Nova.
Halus, hampir tak berbulu. Warnanya merah muda dan berkilau.
Tititku langsung memutar untuk melihatnya.
Saya mengarahkan titit saya ke vaginanya.
“Bud, jangan terganggu!”
“Mengapa Jen? Tidak tahan”
“Jangan Bud … tidak sekarang.” Suaranya lembut melelehkan hatinya.
Entah kenapa aku berhenti memaksa kepala tititaku. Akhirnya saya hanya menggesekkan kepala titit saya di depan vagina Jenni.
“Ah … ya Bud .. hanya itu … terus gosip … Ahh … ahhh”
Jenni mulai rileks lebih dan memperlebar posisi kakinya.
Melihat itu, saya lebih cepat menggesekkan titit. Semakin cepat gesekan, semakin keras suara Jenni.
“OOhhhh … AHhhhh..nice Bud … Teruss .. Terusss .. lebih cepat … Tee..teeeruussss …. AHHHHHH.”
Jenni mendapatkan orgasme dan cukup cairan O-nya keluar. Kasurnya basah kuyup.
Saya melihat Jenni mengalami orgasme yang sangat seksi sampai saya tercengang.
Jenni sangat cantik … Saya sangat terpesona .. Sepertinya saya jatuh cinta pada Jenni.
Nova telah beristirahat cukup dan melihat Jenni telah lemas mengambil alih situasi.
Dia memegang titit saya dan mengguncangnya dengan lembut.
Tititku yang masih belum puas dengan Jenni membuat otakku segera beralih ke Nova dan menyuruhku melampiaskannya ke Nova.
Selain itu, tititaku bisa berupa coblos ke Nova.
Segera aku membalik Nova dan aku mencoba gaya Doggy di samping Jenni yang masih terbaring pincang.
Ternyata gaya Doggy memberikan sensasi yang berbeda. Tidak bisa ditulis dengan kata-kata .. Hanya enak ..
Meskipun Nova sedang menusuk, pandanganku tidak lepas dari Jenni. Jenni membuka matanya dan menatapku dengan kasih sayang.
Senyum manisnya membuat hatiku bingung.
Di sini saya jatuh cinta pada Jenni, tapi tititiku menikmati layanan Nova, dan Jenni tersenyum padaku.
Ah bingung … ..
Aku balas tersenyum pada Jenni saat ia menggiring Nova.
Dentuman kemudi saya dari belakang membuat Nova tidak dapat menahan diri lagi dan dia mengalami orgasme lagi.
Saya memperlambat pod saya sehingga Nova bisa menikmati orgasme nya.
Jenni bangun dan memberikan payudaranya ke wajahku.
“Sapep Bud, biar aku senang!”
Ah .. kegembiraan Jenni nakal .. sungguh tapi ketat.
Tentu saja, karena petunjuk lezat Jenni, goyahku pada Nova semakin cepat.
“Crazy lu Bud, sangat enak disedot dari balik lu sama … aku .. mauuuuu … Ahhhhh …” Nova orgasme lagi.
Aku tidak tahan dengan mengisap puting Jenni sementara doggy ke Nova dan akhirnya .. croott … croott … dua kali aku menyemburkan sperma.
“Bud benar-benar bagus untuk disemprotkan pada Anda … Rasanya enak .. seperti mandi air hangat … tapi rasanya terasa di dalam.”
Posisi kita belum berubah .. Saya masih menempel titit ke vagina Nova sembari terus menyemprot sisa sperma
Dan mulutku terus mengisap, mengisap dan menggigit payudara Jenni.
“Bagus yah Bud, hisap payudaraku dan ngentot-in Nova”
“Ya, Jen! Hanya mimpi yang bisa bertiga seperti ini tapi saya bisa ngerasain kejadian benernya.”
“Ud dong Bud, tarik titit lu Pegel nih nungging hanya” kata Nova.
Aku mencabut tititiku tapi mataku terus menatap mata Jenni. Sepertinya aku benar-benar jatuh cinta.
Malam itu kami tidur tiga dalam keadaan telanjang. Jenni di sebelah kananku, Nova di sebelah kiriku.
******
Tok tok tok .. Pintu kamar hotel sudah mengetuk.
Nova yang terbangun pertama kali membuka pintu dan Rika sepertinya telah dikirim oleh orang tuanya.
“Eh .. Rika” Nova panik “Bokap Nyokap lu dimana?”
“Nova yang senyap, mereka hanya mengantarku kok .. langsung saja kembali ke kota C.”
“Wah … lega .. saya pikir mereka ingin masuk ke dalam.”
“Jadi apa kabar? Uh … kenapa kamu pakai bra?”
“Itu dia Rik .. takut tertangkap .. aku berhasil ya ya”
“Apakah berhasil, lu?”
“Saya suka perawan saya dengan Budi !!”
“Haahh apa yang benar Jenni juga? Kita semua sangat serius dengan Budi!”
“Jenni belum .. masih perawan ya .. saya rasa takut .. tapi sudah main juga sama Budi, baru dipasukin aja.”
“Aku sangat horny, Nov. Dimana itu? Tidakkah kamu menginginkannya?”
“Masih tidur tuh .. lu bangun aja .. pria kalau diberi perawan dimana ada yang menolak.”
“Hahahaha … bener juga lu!”
“Lihat, Rika Ada yang menonjol di sampulnya Dia masih telanjang kamu tahu Kami tidur lebih lama lagi.”
“Di mana Jenni, November? Bagaimana bisa?”
“Lebih di kamar mandi Tuh lu jaga Budi aja Pagi hari jadi tegak .. Lu hisap ait tititnya dulu.”
Rika pergi ke tempat tidur dan langsung menarik selimutnya agar titiku terbuka dengan bebas.
Saya yang masih tidur tidak menyadari apa yang terjadi hanya dengan mengetahui bahwa tititiku senang.
Perlahan aku membuka mataku berpikir Nova atau Jenni sedang mengisap junior.
“Hah? Rika? Apa yang kamu lakukan?” Tanyaku tanpa berusaha kabur. Lebih banyak waktu untuk melarikan diri. Sangat tidak?
“Mmlammggii hissmmmaaapp mttiimmtiitttmm mmlu” Jawab Rika dengan tidak melepaskan muatan di mulutnya.
“Hahahaha” Nova tertawa. “Lanjutkan aja Rik, si Budi kaga nolak tuh .. ngeliatin lu hanya saat rem melek begitu.”
Jenni yang mendengar tertawa Nova, segera melihat keluar dan cukup terkejut melihat Rika mengisap tongkat kesenanganku.
“Eh .. Rika … baru sampe langsung sarapan aja nih” kata Jenni dengan nada yang menunjukkan kejutan.
Jenni keluar dari kamar mandi sambil tetap mengeringkan rambutnya.
Tubuh Jenni luar biasa. Aku tidak bisa melepaskan mataku dari tubuh langsing dengan payudara yang sempurna itu.
“Budi .. jangan ngeliatin aku dong aja .. Rika dah nafsu tuh … puas gih … kayak lu puas kami berdua kemarin ya tidak Nov?”
“Ya Jen .. Ayo Bud .. Puasin Rika .. Perkosa dia .. hahahaha ..”
“Kaga perlu diperkosa .. bangsaku mau relawan banget” kata Rika.
Mendengar jawaban Rika, saya langsung bertingkah.
Aku mencium bibirnya dan kami menghabiskan beberapa menit untuk melampiaskannya saat bertukar air liur.
Rika kecil sehingga saya dengan mudah mengangkatnya dari tepi tempat tidur dan meletakkannya di tempat tidur.
Aku mendekati Rika dan menciumnya lagi. Kali ini tangan saya tidak tinggal diam. Payudara Rika saya pijit dan uleni dengan lembut.
Kemeja ketat yang saya buka langsung menunjukkan payudara kecil yang kencang. Pentil telah keras naik ke atas.
Pentil bagus dan saya langsung memukulnya.
“Ohh .. Bud benar-benar bagus .. keep Bud …. .ahhh .. ahhh ..” Rika mengasyikkan kenikmatan.
Embusan dan manik-manik saya tumbuh lebih keras. Tititku sangat cepat.
Dengan sedikit kasar aku melepaskan semua baju yang masih menempel pada Rika.
Wow .. ternyata Rika memiliki rambut jembut yang sangat kental.
Tebal tapi terlihat sangat rapi dan terawat.
Saya mencapai vagina dan mencium vagina yang merangsang.
Tapi Jenni lebih banyak wangi.
Ah .. Jenni lagi .. ada cewek yang dengan sukarela memberinya perawan, kenapa bisa memikirkan wanita lain.
Aku melirik Jenni dan melihatnya tersenyum penuh pengertian.
Vagina Kujilat Rika sambil terus melihat Jenni. Jenni tersenyum dan mengangguk seolah dia mengerti
Jika saya bertanya mungkin membiarkan saya menjilat vagina wanita lainnya.
”Ohh … oohhh … benar-benar baik Bud .. baru saja menjilat aja gya dah seperti ini .. ”
“Beritahu Budi ngentotin elu, Rik … Lambat yah Bud .. kemarin aku cukup sakit lho” Nova hangat suasananya.
“Iya Bud .. masuk game dong.”
“Tentu lu, Rik?” Aku bertanya pada Rika tapi tatapanku kembali ke Jenni. Jenni mengangguk lagi.
Aku langsung membuka lebar selangkangan Rika. Vagina Rika terlihat sangat imut, karena Rika cukup kecil.
Dia hanya di bawah bahu saya sedikit.
Perlahan aku mendorong titiku ke vagina Rika. Rika yang sangat basah hanya bisa mendesah.
Kepala tititaku masuk sepenuhnya tapi saat aku melihat dindingnya.
“Siap Rika? Ada di depan selaput dara. Tetap saya aduk”
Entah kenapa aku sekali lagi melirik Jenni dan Jenni balas tersenyum. Senyum sangat manis.
“Iya Bud .. sodok aja .. pemerkosaan aku .. bikin aku hamil .. aku mau anak dari lu.” Rika telah melupakan tanahnya.
Aku menggenggam pinggul Rika erat-erat dan mendorongku dengan kekuatan. Blesss .. masuk sudah
Rika meneteskan air mata karena sakit.
“Lanjutkan Rik?”
“Ya Bud Dah dulu sudah terbiasa dengan itu, rasanya penuh dengan pussy ku”
Proses fucking Rika segera terjadi. Out … in … out … in … perlahan tapi pasti vagina Rika semakin basah.
“Crazy … .Yah..banget … Know gini … dari kemarin … aku … ikuti … nginep ….” Rika semakin larut dalam kesenangan.
“Ohh … ooohh … bagus … aahh .. terus .. Bud .. itu cepat .. Bud!”
Aku mematuhi kehendaknya. Semakin cepat saya mengguncang Rika, payudaranya menjadi semakin terguncang.
“Bersama Rika juga .. saya juga mau nyemprot dah ..”
“Ayo Bud .. bikin aku hamil .. banyak semprotan … AAARRRHHHH”
Kami berdua adalah orgasme yang luar biasa. Vika Rika meremas semua sperma dalam titit saya.
Saya mengeluarkan titit saya dan tampak seperti setetes darah perawan yang memercikkan seprai.
Darah perawan noda Rika dan Nova terlihat bersebelahan. Yah aku harus membeli sprei ini dari hotel. Keepsakes saya pikir.
Jenni mendatangiku dan mencium bibirku dengan ciuman yang sangat lembut.
Tiba-tiba ada rasa bersalah di hatiku. Sepertinya Jenni tahu karena dia bilang,
“Tidak apa-apa Bud, kita semua ingin menikmati titit lu.”
Dan kemudian dia menciumku lagi. Ciuman penuh.
Nova menyela ciuman kami dengan mengambil titit saya dan mengisapnya. Jenni mengangguk dan berbaring.
Nova terus menikmati permainan di bawah ini. Jenni mengambil kepalaku dan memberikan vaginanya untukku. Ah .. kesukaan Jenni pussy.
Kujilat dan kujilat berlanjut saat kami terus saling berhadapan. Aku benar-benar jatuh cinta.
Pagi itu saya memutar tiga wanita cantik. Jenni masih hanya meminta gesekan. Nova dan Rika berhasil membuatku semprot
Sperma di dalamnya dua kali. Kami baru saja selesai saat kami lelah dan kelaparan. Ini waktunya makan siang.
******
Epilog:
Kami berempat berhasil masuk universitas di kota B dan sepakat menyewa rumah untuk tinggal bersama.
Orang tua kita tidak ada yang dicurigai. Mereka juga sepakat untuk menyewa rumah lebih nyaman dari kos-kosan.
Bisa memasak dan mencuci baju sendiri. Tidak takut barang hilang.
Empat tahun kuliah, satu hari pasti paling tidak begitu aku meniduri salah satu dari tiga wanita cantik.
Dengan Jenni, selalu hanya gesekan. Bersama Rika dan Nova, tentu saja dye-dye dong.
Tidak ada yang hamil karena kita menghitung kalender dengan disiplin yang tinggi.
Setelah lulus kita masih sering berkumpul untuk “bermain”.
Nova bertemu dengan suaminya di tempat kerja.
Rika bertemu dengan suaminya di kelas S2.
Jenni akhirnya menjadi istriku. Perawan barunya diberi malam pernikahan yang pas.
Kami berdua memiliki dua anak.
Jenni sering mengajak Nova dan Rika untuk bermalam di rumah kita.
Seringkali, aku berhasil menghamili Nova dan Rika.
Anak kedua Nova dan anak ketiga Rika terlihat seperti saya.
Untung suami mereka tidak pernah mencurigai siapapun. Alasannya karena saya sering bergaul dengan saya, jadi sepertinya anaknya.


Saturday, February 2, 2019

Cerita Sex : Rejeki Ngentot Tante Muda


Bandar Judi: bertemu dengan Irwan di sebuah cafe dalam belakang BIP pukul 16. 00. Aku sengaja datang pada lebih awal sekitar getok 15. 45, dan memilih tempat yang agak ke pojok agar aku dapat melihat dia terlebih dahulu. Aku memesan minuman, dan mataku tertuju terus di arah pintu masuk cafe.

Sambil menunggu Irwan berlabuh, aku memperhatikan orang dalam sekelilingku. Saya merasa risih sekali, karena ada anak muda (usianya sekita 25 tahunan) yang duduk sendirian pada meja sebelahku memperhatikan terus sejak pertama aku masuk cafe. Tapi aku cuek saja. Tepat pukul 16. 00, bujang itu menghampiri diriku & memperkenalkan dirinya. Namanya Irwan.
Aku kaget sekali, sebab tidak pernah kubayangkan sebelumnya bahwa Irwan itu masih muda. Dia masih sangat yuana, padahal ketika chatting, dia mengaku berusia 35 tahun. Dan tentunya juga, selama aku berkomunikasi melalui telepon, suara Irwan kelihatan seperti seorang bapak-bapak serta amat dewasa sekali. Hamba luar biasa grogi. Untuk menghilangkan rasa sungkan, kupersilakan Irwan hidup & memesankan minuman.
“Maaf Bu Dina, saya berbohong kepada Ibu. Aku menyetujui berusia 35 tahun, sementara itu usia hamba bukan setua tersebut. Tentunya pula, hamba mohon maaf tidak memakai pakaian yang aku janjikan. Hamba harus panggil siapa nih? Embuk atau Mbak ataupun Tante / sapa ya? ”
“Dina saja deh, biar lebih akrab, ” jawabku. Selanjutnya Irwan bercerita, kenapa dia berhelat umur, pula aktifitasnya sehari-hari, begitu juga saya menceritakan aktifitasku & kehidupan sehari-hariku. Saya bukan menyangka dari cara dia berkomunikasi sangat gede serta banyak dibumbui secara kata-kata humor, sehingga aku dibuat terpingkal-pingkal olehnya.
Tidak terasa, waktu bergulir secara cepat. Sekitar getok 5 sore, Irwan mengajak nonton bioskop dalam BIP. Saya tidak sungkan-sungkan, langsung mengiyakan aja. Sepulang nonton sekitar jam 7 malam, aku mengantarkan Irwan pulang beserta Baleno-ku di daerah Cihampelas. Ditengah perjalanan Irwan mengajakku main ke Ciater. Aku sih tidak masalah, olehkarena itu pada rumah pun saya hanya tinggal sendirian.
Di wilayah Lembang kami beristirahat dulu dan bercengkrama sambil menghabiskan minuman serta jagung bakar. Tidak berasa beker sudah menunjukkan ketuk 11. 30 malam. Akhirnya niat di Ciater kubatalkan sekadar. Hamba mengajak Irwan kembali aja. Dia kendati mengiyakannya.
Sepanjang perjalanan berbalik di Bandung, Irwan mulai agak-agak nakal. Sambil mengarang, dia telah berani mengelus-elus tanganku ketika aku sedang memindahkan perseneling. Pada awalnya kutepis, tapi bandel juga ini anak. Dia bukan sempat kapok, walau kutepis berkali-kali. Karena bosan & tidak ada hasilnya kalau kularang, maka kubiarkan dia mengelus-elus tanganku.
Saya akui, elusannya tersebut membuat hatiku berdebar kian cepat daripada biasanya. Bahkan semakin lama elusannya bertambah ganas, serta telah biasa mulai dari berani mengelus pahaku. Kubiarkan saja, dan aku tetap konsentrasi menyetir mobil. Entah karena suasana yang mendukung, karena kita cuma berdua-duaan, ataukah sebab kesepianku selama masa ini, sebab sudah biasa lambat bukan dielus laki-laki. Aku membiarkan tangannya beraksi lebih jauh. Saya start merinding, & darahku serasa panas menjalar seluruh tubuhku. Semakin lama, Aku bertambah menikmati elusan tangannya.
Sekarang Irwan sudah amat berani! Dia telah keji memegang payudaraku. Aku mulai terangsang. Saya sudah biasa bukan kuat lagi merasakan elusan tangannya. Walhasil mobil kupinggirkan. Saya tanyakan Irwan, kenapa dia degil memperlakukanku sebagaimana itu, sedangkan pada hati saya pula kendati menginginkannya. Dia minta maaf, tapi tangannya uniform tidak mau lepas dari payudaraku. Aku tak kuasa menahan rangsangannya. Kesudahannya kubalas belaian tangannya beserta satu buah ciuman di keningnya. Aku bukan meraba dia menarik tubuhku, serta menciumi bibirku. Dia melumat bibirku, sampai-sampai aku sulit untuk bernafas.

Dia mulai dari berani menyelusupkan tangannya dalam kaos ketat unguku. Aku biarkan aja. Sungguh permainan yang indah, mulutku sudah tersumpal oleh lidah Irwan, & tangannya pun begitu terampil mengelus-elus payudaraku. Terutama putingku biarpun telah dia elus.
Tangan kirinya sejak turun ke arah pangkal pahaku. Saya geli jadi menggerinjal. Tangannya mulai membuka reseletingku perlahan-lahan. Detik demi detik kurasakan tangannya start menyapu kemaluanku. Aku tambah keras mengeluarkan suara. & akhirnya hamba kaget, tatkala tersedia satu mobil dengan kecepatan tinggi dari arah berlawanan, menyorotkan sinar lampunya. Konsentrasiku buyar. Aku lalu membereskan reseletingku dan keonaran tertib unguku. Begitu pula Irwan. Walhasil permainan yang berlangsung sekitar setengah jam itu kudu berakhir olehkarena itu sorotan lampu mobil yang lewat tadi. Dalam sekitar selangkanganku terasa basah.
“Dina, maafin Irwan sungguh. Telah berlaku kurang ajar sama Dina. ”
“Nggak apa-apa koq Fer. Tapi aku bingung, kenapa koq kamu keji berbuat seperti itu menurut saya. Padahal kamu kan 8 tahun lebih lembut dari upas. ” “Nggak tahu deh, Yen. Mungkin hamba start menyukaimu sejak pertemuan kalian di Cafe. ” “Gombal ah.. ” kataku agak manja.

“Aku geli banget lho, saat awak pujuk tadi. Kiranya karena saya baru mendapat lagi sentuhan pria, akur Fer. Kalau boleh aku jujur, baru kali itu, ada cowok yang menyentuh aku lho Fer. Sejak perceraian saya dengan suami wahid sebelah tahun yang kemudian. ”
“Sudahlah Yen, jangan ngomongin parak, nanti kamu sedih. Mendingan kalian melanjutkan prosesi deh.. ” Aku melanjutkan pengembaraan karena berbagai gejolak perasaan dan kenikmatan yang segar saya raih bersama Irwan. Sambil aku merencanakan mobil, Irwan tidak lupa menyapu pahaku juga payudaraku. “Yen, bagaimana kalau member berhenti sunyi di hotel. Biar member bisa situ tenang melakukannya. ”
Saya bingung, antara mengiyakan dan bukan. Jujur saja, aku ingin mendapat lebih tersendiri lagi daripada elusan lembutnya tersebut. Akan tetapi aku ragu dan malu. Akhirnya kuputuskan, mengiyakan ajakkannya. Sesampainya di kamar Hotel “S” di sekitar Setiabudi, Irwan tidak memberikan kesempatan untukku beradu. Dia sinambung memelukku & melumat bibirku. Aku gelapan dan tak kuasa menolaknya ketika Irwan mulai mebuka kaos sesak unguku juga membuka celana panjangku.
Hamba disuruhnya hidup di atas meja. Dengan elusan tangannya, Irwan sudah membuka bra-ku yang berukuran 36B & celana dalamku. Dia tambah beringas, bagaikan macan kelaparan. Irwan sedari menciumi lubang kewanitaanku.
Rasanya bukan terlukiskan, badanku menggeliat-geliat bagai ulat kepanasan. Lidah Irwan merojok-rojok vaginaku dan menjilat klitorisku yang sebesar kacang kedelai. Lalu kubuka kemeja dan seluar jeansnya Irwan. Kaget! Ternyata “barang”-nya Irwan sudah keluar melewati serawal dalamnya. Kelihatan ujungnya memerah. Aku takut, apakah mungkum kewanitaanku muat untuk “barang”-nya Irwan.
Sudah terasa satu jari dimasukkan ke dalam lubang kewanitaanku. Dikeluar-masukkannya jari itu & diputar-putar. Digoyang ke kanan dan kiri. Satu ujung tangan dimasukkannya lagi. Terasa sakit, akan tetapi nikmat. Kiranya sedang penasaran, Irwan memasukkan jarinya yang ketiga. Dikeluar-masukkan, digoyang kiri daksina. Nikmat sekali. Sedangkan tangan kirinya membantu menggagas terowongan kewanitaanku untuk mempermudah memasukkan jari-jari kanannya.

Ah.. uh.. ah.. sh.. uhh.. shh.. langsung Fer.. aduh.. nggak memuaskan Fer.. Aku mau tampak nih.. ”
Akhirnya saya bersimbah. Saya tersenyum puas.
“Sekarang gantian ya, jilatin punyaku dong Yen.. ” Irwan memohon kepadaku.
“Iya Fer, tetapi punyamu panjang, terima nggak sungguh..? ” jawabku.
“Coba sekadar lepas, Yen. Nanti pula terbiasa. ”

“Auh.. aw.. jangan didorong dong Fer, malah menyerap di tenggorokkanku, pelan-pelan saja sungguh. Punyamu kendi panjang. ” Sekitar lima belas menit kemudian erangan Irwan semakin menjadi-jadi.
“Ah.. uh.. oh.. ah.. sh.. uh.. oh.. uh.. ah.. uh.. ”
Kuhisap bertambah memuaskan serta longgar, Irwan pula agar semakin rusuh erangannya. Irwan mulai ingat, tangannya bekerja lagi mengelus vaginaku yang mulai mengering, basah kembali. Mulutku uniform penuh kemaluan Irwan dengan gerakan tampak masuk diantaranya penyanyi karaoke.

“Sudah dulu Yen, hamba nggak tahan.., masukkin saja ke punyamu ya..? ” pinta Irwan.
Aku seharga menganggukkan kepala saja, dan kemudian berharaf-harap cemas apakah punyaku muat atau tidak dimasuki kepunyaannya Ferdi. Kedua kakiku diangkat pada pundak kiri dan kanannya, sehingga posisiku mengangkang. Dia dapat melihat dengan jelas kemaluanku yang kecil namun tersua gemuk seperti bakpau.

Kulihat dia menyapu kemaluannya, serta menyenggol-nyenggolkan di dalam kemaluanku, aku kegelian. Dibukanya kemaluanku secara tangan kirinya, dan tangan daksina menuntun kemaluannya yang besar dan panjang menuju mungkum kewanitaanku. Didorongnya perlahan, “Sreett.., ” dia melihatku sambil tersenyum dan dicobanya sekali lagi. Mulai kurasakan pucuk tempik Irwan merasuk renek. Aku mulai jijik, tetapi terkaan sakit sedikit. Barangkali olehkarena itu terowongan kewanitaanku tidak tahu lagi dimasuki tempik laki2. Irwan tau saya meringis menutup perih, dia berhenti & bertanya. “Sakit akur..? ” Aku bukan menjawab, cuma kupejamkan mataku ingin lekas mereguk puki besarnya itu.
Digoyangnya permulaan &, “Bleess.. ” digenjotnya kuat pantatnya ke depan hingga aku menjerit, “Aaauu.. ” Kutahan pantat Irwan untuk tidak bergerak. Rupanya dia mengerti kemaluanku terkaan linu, serta dia juga ikut diam sesaat. Kurasakan puki Irwan berdenyut dan saya bukan target ketinggalan. Aku berusaha mengejang, sehingga kemaluan Irwan merasa kupijit-pijit.
Selang beberapa saat, kemaluanku rupanya telah bisa menerima semua kemaluan Irwan secara baik & start berair, sambil sebab itu itu memudahkan Irwan untuk turun. Saya mulai becek serta berasa tersedia kenikmatan mengalir di sela pahaku. Perlahan Irwan menggerakkan pantatnya ke belakang dan di depan. Saya mulai dari kegelian dan nikmat. Kubantu Irwan beserta ikut menyelenggarakan pantatku berputar. “Aduuhh.., Rendah.., ” erang Irwan menutup laju perputaran pantatku.
Sangkasangka dia juga kegelian bahwa saya menyelenggarakan pantatku. Ditahannya pantatku kuat-kuat supaya tidak berputar lagi, justru beserta menyudahi pantatku kuat-kuat itulah aku menjadi geli & mencoba untuk melepaskannya dengan jalan turun sirkulasi lagi, tapi dia tambah memuaskan memegangnya. Kulakukan lagi gerakan berulang serta kurasakan telur tempik Irwan menatap pantatku licin dan jijik. Sangkasangka Irwan termasuk longgar pula, berkali-kali kemaluannya mengocek kemaluanku sedang wajar sekadar tidak menunjukkan adanya kelelahan bahkan semakin meradang.
Kucoba mempercepat trik pantatku bersirkulasi bertambah menjulung & segera, kulihat hasilnya Irwan start kewalahan, dia terpengaruh iramaku yang bertambah lancar. Kuturunkan kakiku menggamit pinggangnya, dia tambah bukan berpikir berputar lagi, akan tetapi dia tambah longgar memegangnya. Kuturunkan kakiku menggamit pinggangnya, dia semakin bukan leluasa untuk berpikir, sehingga saya siap mengaturnya. Aku mereguk sudah biasa lazim 4 (empat) kali kemaluanku mengeluarkan cairan untuk membasahi kemaluan Irwan, namun Irwan belum menongol pula.
Kupegang batang pekik Irwan yang keluar masuk liang kewanitaanku, ternyata masih terdapat sisa sekutil yang tidak dapat menyerap di tahang senggamaku. Aku pun terus mengerang keasyikan, “Auh.. auh.. langsung Fer.. auh.. Ena.. k Fer.. Ugh.. ah.. lebih cepat lagi Fer.. ugh.. ah.. sshh.. uh.. oh.. uh.. ash.. sshh.. ” “Kecepek.., kecepek.., kecepek.., ” bunyi kemaluanku saat puki Irwan mengucek habis dalam dalamnya. Saya kegelian hebat, “Dina.. aku mau keluar, Tahan ya.., ” pintanya menyerah.
Tanpa membuang saat, kutarik kemaluanku daripada kemaluannya, kugenggam serta dengan lincah kumasukkan bonggol puki tersebut ke pada mulutku, kukocok lalu kuhisap kuat-kuat, kuhisap lagi dan secara lekas mulutku maju mundur untuk mencoba merangsang agar air maninya segera menongol. Mulutku mulai payah tetapi air mani yang kuharapkan bukan juga terlihat. Kutarik kemaluan dari mulutku, Irwan tersenyum & sekarang telentang. Tanpa menyambut komando, kupegang kemaluannya, kutuntun di lubangku beserta aku mendudukinya. Aku bergerak naik diturunkan, serta dia memiliki susuku beserta erat.
Bukan lelet lalu ditariknya tubuhku melekat pada dadanya, dan aku pula terasa gawat.“Sreet.., sreett.., sreett.., ” kurasakan ada semburan hangat bersamaan dengan keluarnya pelicin dalam kemaluanku, dia memelukku sanding demikian juga saya. Kakinya dijepitkan pada pinggangku kuat-kuat seolah tidak bisa sunyi. Dia tersenyum lega. “Dina.., aku pertama merasakan tempik seorang wanita. Kamu adalah wanita baru yang merenggut bujanganku. Saya sepanjang ini paling banter seharga melakukan peting saja. Jelas luar biasa, enak gila, kepunyaanmu memijit punyaku sampai nggak karuan rasanya, hamba lega Yen.. ”
Kini tangan Irwan menempel pada pahaku, juga tanganku menumpang dalam celananya. Sesekali Irwan menyandarkan wajahnya di dadaku dan ujung tangan sewenang-wenang Irwan mulai dari berlaku beserta manja. Kurasakan gumpalan daging tempik Irwan start mengeras lagi, dia tersenyum melihatku. Walhasil tidak berasa saya telah datang di Cihampelas, & menurunkan Irwan. Lalu kemudian aku mengenyal ke rumahku di sekitar Sukarno-Hatta.

Cerita Sex : Mau Lamar Jadi Model Malah Kena Ngentot


Bandar Judi : Aku baru saja bangun tidur, Udara terasa segar setelah Jakarta diguyur hujan deras semalaman, Kukenakan kaos oblong tanpa lengan dan celana pendek ketat yang menampakkan lekuk-lekuk pantatku yang begitu menggiurkan. Aku berjalan ke halaman depan.

Aha… Koran baru sudah datang”, kataku dalam hati melihat surat kabar pagi terbitan hari ini tergeletak di dekat pintu pagar. Kuambil surat kabar itu. Langsung aku duduk di kursi di teras sambil membacanya. Sebagai mahasiswa fakultas ekonomi aku sangat menyukai berita-berita tentang perekonomian Indonesia termasuk krisis ekonomi berkepanjangan yang tengah melanda Indonesia. Kubolak-balik halaman-halaman surat kabar. Mataku tertumbuk pada sebuah iklan satu kolom yang cukup mencolok.
“Dicari, gadis berusia 17 sampai 25 tahun. Wajah dan penampilan menarik. Bertubuh ramping. Tinggi minimal 165 cm dengan berat yang sesuai. Dapat bergaya. Berminat untuk menjadi foto model. Peminat diharapkan datang sendiri ke **** (edited) Agency, Jl. Cempaka Putih **** (edited), Jakarta Pusat.”

“Aku bisa diterima apa nggak ya?” Aku bertanya dalam hati. Memang sih, kupikir-pikir aku memenuhi syarat-syarat yang diminta. Usiaku baru menginjak 20 tahun. Tubuhku ramping dengan tinggi 170 cm, seimbang dengan ukuran dadaku yang di atas rata-rata wanita seusiaku. Wajahku cantik. Teman-temanku bilang aku perpaduan antara Desy Ratnasari dan Maudy Kusnadi. Tapi menurutku sih mereka terlalu memujiku berlebih-lebihan.

Ah, coba-coba saja aku melamar. Siapa tahu aku diterima jadi foto model. Kan lumayan buat menambah penghasilan. Aku masuk ke dalam rumah, ke kamarku. “Pakai baju apa ya enaknya?” batinku. Ah ini saja. Kukenakan blus biru muda dan celana panjang jeans belel yang cukup ketat yang baru saja beberapa hari yang silam kubeli di Cihampelas, Bandung.

Mobil Feroza yang kukendarai memasuki jalan yang disebut dalam iklan. Ah, mana ya nomor **** (edited)? Nah ini dia. Rumahnya sih cukup mentereng. Di halamannya terpampang papan nama “**** (edited) Agency Photo Studio & Modelling. Menerima anggota baru.” Wah benar ini tempatnya. Kuparkir mobilku di pinggir jalan. Di sana sudah banyak bertengger mobil-mobil lain. Aku masuk ke dalam. Astaga! Di dalam sudah banyak cewek-cewek cantik. Pasti mereka juga adalah pelamar sepertiku. Sejenak mereka memandangku ketika aku masuk. Mungkin mereka kagum melihat kecantikan wajahku dan kemolekan tubuhku. Kucari tempat duduk yang kosong setelah sebelumnya mendaftarkan diriku di meja pendaftaran.

Gila, hampir semua tempat duduk terisi. Nah, itu dia ada satu yang kosong di sebelah seorang cewek yang cantik sekali, keturunan Indo. Wajahnya mirip Cindy Crawford. Kelihatannya ia sebaya denganku. Tapi astaga, ia memakai baju yang berdada rendah alias “you can see,” dan rok jeans mini yang cukup ketat, sehingga menampakkan pangkal payudaranya yang berukuran cukup besar. Ia nampak memandangku dan tersenyum. Melihatnya aku menjadi minder. Wah, sainganku ini top sekali. Apakah mungkin aku terpilih menjadi foto model di sini? Satu persatu para pelamar dipanggil ke ruang pengetesan, sampai si Indo di sampingku tadi dipanggil juga. Semua pelamar yang sudah dites keluar lewat pintu lain. Akhirnya namaku dipanggil juga.
“Hanny K**** (edited) dipersilakan masuk ke dalam.”

Aku pun masuk ke dalam dan disambut oleh seorang pria bertubuh agak gemuk.
“Kenalkan aku Adolf, direktur sekaligus pemilik agensi ini. Siapa nama kamu tadi? Oh ya, Hanny, nama yang bagus, sebagus orangnya. Sekarang giliran kamu dites. Coba kamu berdiri di sana.”
Aku pun menurut saja dan menuju tempat yang ditunjuk oleh Adolf, di bawah lampu sorot yang cukup terang dan di depan sebuah kamera foto.

“Coba kamu lihat-lihat contoh-contoh foto ini. Pilih lima gaya di antaranya. Aku akan mengetes apakah kamu bisa bergaya. Jangan malu-malu, don’t be shy!” kata Adolf sembari memberiku sebuah album foto. Aku melihat foto-foto di dalamnya. Ah ini sih seperti gaya foto model di majalah-majalah! Mudah amat! Lalu aku memilih lima gaya yang menurutku bagus. Setelah itu, jepret sana, jepret sini, lima gaya sudah aku berpose dan dipotret. Tapi Adolf belum mempersilakan aku keluar ruangan. Dia kelihatannya seperti berpikir sejenak.

“Nah, sekarang, Han. Coba kamu buka kancing-kancing bagian atas blus kamu. Nggak usah malu. Biasa-biasa aja lah!”

Kupikir tak apa-apa lah kali ini. Kubuka beberapa kancing atas blusku sehingga terlihat BH yang kupakai. Mata Adolf sekilas berubah saat melihat pangkal payudaraku yang montok. Lalu aku dipotret lagi dengan pose-pose yang sensual.
“Nah, begitu kan yahud. Sekarang coba buka baju kamu semuanya.”
Wah! Ini sih mulai kelewatan!
“Ayolah, jangan malu-malu!”

Sebenarnya dalam hati aku menolak. Akan tetapi biarlah, karena aku sejak kecil selalu mengidam-idamkan ingin menjadi foto model.

Dengan perlahan-lahan kutanggalkan blus dan celana panjangku. Mata Adolf tanpa berkedip memandangi tubuh mulusku yang hanya ditutupi oleh BH dan celana dalam. Aku sedikit menggigil kedinginan hanya berpakaian dalam di ruangan yang ber-AC ini. Namun Adolf tidak mengindahkannya. Ia malah menyuruhku menanggalkan busana yang masih tersisa di tubuhku. Ah, gila ini! Tapi cueklah, hanya berdua ini! Lalu dengan membelakangi Adolf, kulepas BH-ku. Kusilangkan tanganku di dada menutupi payudaraku.

“Han, masak kamu balik badan begitu. Bagaimana aku bisa mengetesmu.”
Aku membalikkan tubuh menghadap Adolf. Adolf menyuruhku menurunkan tangan yang menutupi payudaraku. Adolf terpana menyaksikan payudaraku yang montok dan berisi dengan puting susunya yang tinggi menantang berwarna kecoklatan segar, tanpa tertutup oleh selembar benang pun. Aku menjadi risih pada pandangan matanya. Adolf menyuruhku melepas celana dalamku. Ia semakin melotot melihat bagian kemaluanku yang ditumbuhi oleh rambut-rambut halus yang masih tipis. Sekilas kulihat kemaluan di balik celana panjangnya menegang.


“Nah, sekarang kamu diam di situ. Akan kuukur tubuhmu, apakah memenuhi syarat”, kata Adolf sambil mengambil meteran untuk menjahit. Pertama kali dia mengukur ukuran vital dadaku. Ia melingkarkan meterannya melalui payudaraku. Dengan sengaja tangan Adolf menyentil puting susuku sebelah kanan sehingga membuatku meringis kesakitan. Tapi aku diam merengut saja.
“Kamu beruntung memiliki payudara yang indah seperti ini”, kata Adolf sambil mencolek belahan payudaraku.

“Nah, sudah selesai sekarang.” Aku merasa lega. Akhirnya selesailah pelecehan seksual yang terpaksa kuterima ini.
“Jadi saya sudah boleh keluar?” tanyaku.
“Eit! Siapa bilang kamu sudah boleh keluar?! Nanti dulu, manis!”
Wah, kacau! Apa gerangan yang ia inginkan lagi?
“Susan!” Adolf memanggil seseorang.

Seorang gadis cantik keluar dari ruangan lain, telanjang bulat. Ya ampun, ternyata ia adalah cewek Indo yang tadi duduk di sampingku di ruang tunggu. Payudaranya yang montok bergantung indah di dadanya, seimbang dengan pinggulnya yang montok pula. Aku bertanya-tanya apa arti dari semua ini.

“Nah, sekarang coba kamu lihat, Hanny. Susan ini adalah satu-satunya pelamar yang berhasil terpilih. Mengapa? Sebab ia cocok dengan profil foto model yang saya inginkan untuk proyek kalender bugil yang akan saya edarkan di luar negeri. Kalo kamu ingin berhasil seperti Susan, kamu harus berani seperti dia, Han”, kata Adolf sambil menunjuk ke arah gadis cantik yang bugil itu. Astaga! Batinku. Aku harus dipotret bugil. Bagaimana pandangan orang-orang terhadapku nanti apabila foto-foto telanjangku sampai dilihat orang-orang banyak?! Tapi kan cuma diedarkan di luar negeri?!

“Baiklah, tapi kali ini aja ya”, aku menyanggupinya. Akhirnya aku dipotret dalam beberapa pose. Pose yang pertama, aku disuruh berbaring tertelentang dengan pose memanjang di atas ranjang, dengan membuka pahaku lebar-lebar, sehingga menampakkan kemaluanku dengan jelas. Pose kedua, aku duduk mengangkang di tepi ranjang sementara Susan menjilati liang kemaluanku. Pose ketiga, aku dalam keadaan berdiri, sedangkan Susan dengan lidahnya yang mahir mempermainkan puting susuku. Pose keempat, aku masih berdiri, sementara Susan berdiri di belakangku dan berbuat seolah-oleh kami berdua sedang bersenggama. Susan berperan sebagai seorang pria yang sedang menghujamkan batang kemaluannya ke dalam liang kewanitaanku, sedangkan tangannya meremas-remas kedua belah payudaraku yang indah. Dan aku diminta memejamkan mataku, seakan-akan aku sedang terbuai oleh kenikmatan yang tiada taranya. Semua itu adalah pose-pose yang membangkitkan nafsu birahi bagi kaum pria namun amat memuakkan bagi diriku.

Tiba-tiba kurasakan kedua belah payudaraku diremas-remas dengan lebih keras, bahkan lebih kasar. Aku meronta-ronta kesakitan. Aku menoleh ke belakang. Astaga! Ternyata yang di belakangku sudah bukan Susan lagi, melainkan Adolf yang sekarang tengah mempermainkan payudaraku dengan seenaknya! Entah Susan sudah ke mana perginya.

“Jangan, Pak! Jangan!” Aku memberontak-berontak sebisa-bisanya. Tapi semua itu tidak ada hasilnya. Tangan Adolf lebih kuat mendekapku kencang-kencang sampai aku hampir tidak bisa bernafas.

“Kamu memang benar-benar cantik, Hanny”, kata Adolf sambil mencium tengkukku sementara tangannya masih terus merambah kedua bukit yang membusung di dadaku.
Tiba-tiba dengan kasar, Adolf mendorongku, sehingga aku jatuh tertelentang di sofa. Melihat tubuh mulusku yang sudah tergeletak pasrah di depannya, nafas Adolf memburu bagai dikejar setan. Matanya melotot seperti mau meloncat keluar melihat keindahan tubuh di depannya. Kututup payudaraku dengan tanganku, tapi Adolf menepiskannya. Betapa belahan payudaraku sangat lembut dan merangsang ketika mulut Adolf mulai menjamahnya. Payudaraku yang putih bersih itu memang menggiurkan. Mulut Adolf dengan buas menjilat dan melumat bagian puncak payudaraku, lalu mengisap puting susuku bergantian, sehingga aku menggelinjang kegelian. Nafasku ikut memburu kala tangan Adolf mulai merayap ke selangkanganku, meraba-raba pahaku dari pangkal sampai lutut. Lalu betisku yang mulus itu.
Aku hampir-hampir tak bisa bernafas lagi ketika mulut Adolf terus mengisap dan menyedot puting susuku. Aku meronta-ronta. Tapi Adolf terus mendesak dan melumat puting susuku yang runcing kemerahan itu. Seumur hidupku, belum pernah aku diperlakukan sedemikian lupa oleh lelaki manapun, dan kini aku harus menyerahkan diriku pada Adolf.

Adolf mencoba mendorong batang kemaluannya masuk ke dalam liang senggamaku yang sempit. Ia sudah tak kuat lagi membendung nafsunya yang memuncak ketika batang kemaluannya bergesekan dengan liang kewanitaanku yang merah terbuka. Batang kemaluan Adolf akhirnya menghujam seluruhnya ke dalam liang kenikmatanku. Aku menjerit ketika liang kewanitaanku diterobos oleh batang kemaluan Adolf yang tegang dan panjang. Betapa perih ketika “kepala meriam” itu terus masuk ke dalam liang kewanitaanku, yang belum pernah sekalipun merasakan jamahan laki-laki.
Aku mencoba memberontak sekuat tenaga lagi. Tapi apa daya, Adolf lebih kuat. Lagipula aku sudah lemas, tenagaku sudah hampir habis. Terpaksa aku hanya dapat menerima dengan pasrah digagahi oleh Adolf. Dan akhirnya, aku merasa tak kuat lagi. Setelah itu aku tak ingat apa-apa lagi. Aku tak sadarkan diri.

Saat aku siuman, aku menyadari diriku masih tergeletak telanjang bulat di sofa dengan cairan-cairan kenikmatan yang ditembakkan dari batang kemaluan Adolf berhamburan di sekujur perut dan dadaku. Sementara kulihat ruangan itu telah kosong. Segera kukenakan pakaianku kembali dan bergegas ke luar ruangan. Kukebut Feroza-ku pulang ke rumah dan bersumpah tak akan pernah kembali lagi ke tempat terkutuk itu!


Cerita Sex : Ngentot Tetangga Semok Toket Aduhai


Bandar Judi : Nama saya adalah Made Artana sekarang lg kul di salah satu universitas swasta di Kota Denpasar. Hal ini terjadi beberapa bulan yang lalu. Pada tetangga pertama Manik.. yang bekerja di sebuah ama kakak perusahaan swasta sering tidur di rumah saya karena mereka akrab.

Dia cantik bahkan lebih indah daripada tubuh pacar saya sendiri terutama menarik dengan besar toketnya itu. Aku naksir banget ama dia, dia juga tampaknya juga memberi saya harapan. Jadi dia rajin datang ke rumah.rnrnSeperti biasaaa … malam itu dia tinggal di rumah kami lagi.

Mungkin karena belum mengantuk, ia masih asyik menonton TV di ruang tamu sementara itu tidur adiku dikamarnya.rnrnPDKT ah .. saya pikir, hanya meninggalkan ini Game Online dan duduk di sampingnya Nonto TV bersama – sama. Saya tidak tahu, apa karena kantuk atau hanya berpura-pura – pura-pura tertidur di sofa dan agak membungkuk ke arahku.

Saya iseng juga berpura-pura – pura-pura tidur dan kami bersandar satu sama lain, eh dia diem aja, .. mungkin sudah tertidur tidurnya.rnrnSekitar 12 tengah malam keinginan timbul tuk sentuh dia … dan kemudian saya menempatkan jari saya ke mulutnya, ia diam-diam menulis pertama .., .. tapi kemudian ia hanya membuka mulutnya dan mengunyah jariku..aku terkejut wah ni ce pack nich..pikirku bus.

Deg2 sebuah juga saya karena kuberanikan diri untuk mencium pipinya, dia diem aja aja trus aku mencium bibirnya ,,, eh tidak taunya dia malah menjawab bahkan lebih agresif.

Kuarahkan aja tangan di bawah T-Shirt. wah ternyata emang payudara sangat besar. Kuremas2 payudara besar bahwa ia menulis kukulum njerit kemudian membiarkan bibirnya diam, tangan terus meremas payudaranya semakin lama dia keenakan dan berani Saya kemudian membuka nya T-Shirt ia mengangkat tubuh kecilnya terus bh ,, .. sekarang dia setengah telanjang.

Kujilati puting kecoklat2 dan lebih keras, ia menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan mungkin kemudahan. Tanganku mulai membuka kancing celana pendek saat aku masih bermain payudaranya, lalu aku membuka CD-nya.

Aku menatap seluruh tubuh, halus wah sekaliii … .bodinya juga sangat membuat saya vagina apalgi lebih bersemangat kuliat banyak ditumbuhi bulu dan rapi itu, baru sekarang aku sulit daging seperti itu begitu panas aku dingin, rnrndia renggangkan paha ,,, duuuccch..tu bagus liang vagina kali..ternyata kaya gini ya itu..pikirku. merah kecoklatan dan sedikit mengkilap dalam vaginanya dan itilnya membengkak dan bau vagina manis semakin saya bersemangat.

Kujilati vagina dan aku tenggelam dalam selangkanganya yang benar-benar terpotong ke kepala. sedikit vagina basah kemudian pindah ke ujung itilnya lidah saya, saya merasa semakin sulit ia tak tega aach..Ar..enaaaak..ach..kujilati itilnya terus sampai lanjut basahrnrnaaaaach … teruuus aaach..dia dan menekankan rambut berjambul kepala lebih jauh ke dalam vagina.

Semakin menarik ya, hanya takut ngelakuin di ruang tamu, baik payah jika rumah tangga ni tau pikirku..lalu kubisiki ke saya yuk kamar aja ..?. Dia mengangguk dan kami pindah sambil membawa pakaian dan tidak akan membiarkan baik ciuman di bibirnya dan ia terus pelukan..nah sekarang kita bebas … .iya dia berkata dengan lembut ia melepaskan baju saya dan celana saya hanya dia..dan menyembullah penis yang emang udach tegang dari tadi2. rnrnDia memiliki sekali..panjang lagie kaget..lho kakak, katanya, ketika saya penis penis meremas2 ndak begitu lama hanya 16 cm tapi mungkin karena dia belum kontol sulit.



Dia berbaring di tempat tidur, aku mengangkat kakinya dan bagian atas vagina dan itilnya keliatanlah lagie menantang itu. Dia mengerang saat dia meremas2 payudara sendiri jelas kusedot itilnya naik sedikit ketarik keluar aduuuch … aaaach … Ar ….

Sekarang aku mengambil posisi lagi 69 aku menjilati vaginanya dan menjilat penis saya, kontol lezat saya menjilat rasanaya tu semakin kurenggangkan lagi selangkanganya, kepala tenggelam kembali selangkanganya bahkan dia Peras paha sampai saya agak sulit untuk bernapas.

Aku menaruh jari saya sekali tapi..sempit ingin … gila ..apa perawan yaa..pikirku. kujilati menulis itilnya, dia lebih agresif dan lebih cepat menjilati penis saya. Ar .. aku ndak kuat lagie aja .. sekarang .. Ya lit..kataku ar … saya ambil dan dia menyebarkannya selangkanganya menjadi mudah bagi penis saya untuk menemukan target.

Aku meletakkan penis saya ke dalam vaginanya, dia memegang penis saya kemudian menuntunnya ke dalam vagina … menyeret semua .. Aku berusaha keras untuk mendapatkan berkali2 akhirnya menekan penis keras dan ia juga memukul pantatnya ke atas .. bleeeesrnrn..aaaaaach ..sakit Ar..Aduuuuch..akhirnya juga masuk ni kontol meskipun tidak sepenuhnya..dan kemudian saya tekan lagie ke tempatnya dengan tangan tidur meremas2 bleeeeeesss … rnrnaaaaaachhh..aduuuch..sambil keras dan kepalanya dilempar ke kiri dan ke kanan, kasian dia. Banyak keringat dan plastisitas merah wajahnya, aku berhenti gerakan saya kemudian kukulum bibirnya agar dia tenang lagi sementara penis saya masih di dalam vaginanya.

Setelah dia tenang kuayun lagie penis keluar perlahan-lahan, sekarang dia semakin kontrol dan bahkan menemani masuk dan keluar dari penis saya bergetar pantatnya.

penis saya terasa hangat berada di dalam vagina apalagie terasa seperti menggigit gigit semakin menambah jiwaku. setelah kira2 10 menit menjelang plastisitas dia ingin orgasme … dan kemudian kuayun penis Ar..aaaach..dia cepat menekankan keras2 vagina dan keluar cairan dari vagina, banyak sekali..bahkan sampai berair keluar, tidak ditarik keluar saya penis meskipun ia keliatanrnsedikit lelah..kuayun aja terus kedepan dan belakang sementara aku remas2 puting … dia hanya melet2 menggerakkan lidahnya ke kiri dan kana bibir.

10 menit kemudian aku merasa baik sepertinya saya ingin keluar … kupercepat menyodok ke vaginanya lolokku aaach..Ar … teruuuuuss … dia terus mengerang, rupanya dia juga bersedia untuk orgasme kedua dan ia datang keluar lagie. Tiba2 saya merasa ada yang mendorong keluar dari lolokku, buru2 ditarik keluar lolokku biarkan ndak tumpah di dalam, tapi itu sedikit terlambat dan ada sedikit lag dan banyak berceceran di vaginanya dan lolokku.

kami mengambil 69 lagie..aku menjilati air mani dioleskan di vagina, dan bukannya ia menjilati air mani terjebak dalam lolokku tinggal saliva menulis bahwa kehilangan di lolokku. Ar sedikit amis dan asin yaaaaa … .but kok..katanya lezat.

Saya kemudian berbaring di tepi tempat tidur dia hanya turun dan berjongkok di depan saya dia kulum lolokku, sudah cuman menjilat nya menulis, tak lama setelah itu lolokku tegak lagi dan kemudian saya duduk dan ia lebih bersemangat menghisap tegangan 100%, lolokmu lama sekali sampai ke tenggorokan katanya, aku hanya tersenyum menulis, ternyata beginian juga tahu ndak kalah nikmat dibandingkan pintu masuk ke vagina Manik .. nafsu intensif dan saya juga ingin keluar lagie.

Aku menekan kepalanya lebih dalam ke lolokku lalu … aaaachh..crooooot … dia kaget dan bersedia untuk menarik muntah..dan kepalanya. Aku menutup mulutnya ..telan hanya membiarkan Anda tetap muda kataku. kemudian ia menelan juga dengan sedikit sulit karena banyaknya.


Cerita Sex : Ngentot Cewek Perawan Asal Malaysia


Bandar Judi : Cerita ini adalah kisah nyata yang merupakan pengalaman pribadi saya. Nama saya, sebut saja Andre, dan saya bekerja di sebuah perusahaan multi nasional di Jakarta. Beberapa bulan yang lalu perusahaan saya mengadakan workshop regional di Bali. Workshop diadakan di Hard Rock Hotel selama 4 hari, dan yang hadir kebanyakan dari Singapura, Thailand, Malaysia, Hong Kong dan sebagainya. Jumlah peserta sekitar 40 orang, dan selama berlangsungnya workshop kami dibagi menjadi 5 kelompok yang terdiri dari masing-masing sekitar 8 orang. Karena banyaknya aktivitas yang kami lakukan bersama, otomatis kami jadi kenal dengan baik satu dengan lainnya, terutama rekan-rekan yang satu kelompok.

Di kelompok saya ada satu peserta dari Malaysia, namanya Eileen yang menurut saya sangat cantik. Kulitnya putih mulus dan badannya juga sangat seksi. Dari pertama kenal saya sudah tertarik dengannya, dan saya berusaha untuk dapat lebih dekat dengan dia. Karena kebetulan kami menangani bagian yang sama, walaupun dia di cabang Kuala Lumpur dan saya Jakarta, banyak hal yang berkaitan dengan pekerjaan yang dapat kami bicarakan. Sehingga dalam 2 hari kami sudah cukup dekat. Dari pembicaraan yang bersifat pekerjaan, pembicaraan kami sampai juga ke yang bersifat pribadi, dan saya mulai mengenal Eileen lebih jauh. Eileen ternyata sudah memiliki pacar di Malaysia, dan rencanya tahun depan dia akan menikah. Terus terang, waktu pertama kali mendengar itu saya kecewa, tapi saya berjanji pada diri sendiri kalau saya tidak akan menyerah begitu saja.

Karena acara kami setiap harinya berlangsung dari pagi hingga sekitar jam 9 malam harinya, otomatis hampir semua kegiatan kami lakukan di hotel. Paling-paling sore harinya kami keluar untuk berbelanja di sekitar Kuta. Hari Rabu malam (hari ketiga) saya tidak dapat tidur. Dan sekitar jam 11 malam saya menelepon kamar Eileen dan mengajak dia keluar untuk berjalan-jalan di pantai. Di luar dugaan, ternyata dia setuju dan kami pun kemudian ke pantai Kuta yang terletak persis di seberang Hotel. Kami duduk di tepi pantai yang gelap dan berbicara banyak hal sambil memandangi ombak dan bintang-bintang. Karena suasana pantai yang sangat romantis, perasaan kami terhanyut dan saya memberanikan diri untuk mengutarakan perasaan saya. Ternyata perasaan saya tidak bertepuk sebelah tangan dan dia mengakui bahwa dia juga suka dengan saya.

Sekitar jam 1 pagi dia mengajak saya balik ke hotel, karena sudah larut malam dan besok paginya masih ada aktivitas lagi walaupun sudah hari terakhir. Saya ajak Eileen untuk tidur di kamar saya, tetapi dengan halus dia menolak, alasannya dia belum siap karena kami baru saling kenal.

Besok harinya kami berpura-pura tidak ada apa-apa di antara kami, dan kami pun bekerja dalam kelompok seperti biasanya. Terus terang saya sudah tidak sabar untuk menunggu malam tiba dan berduaan dengan dia lagi. Karena malam terakhir, kantor kami mengadakan acara makan malam di Nusa Dua dan kami baru kembali ke hotel sekitar jam 10 malam. Begitu sampai di hotel, saya tanya Eileen apakah saya boleh main ke kamarnya karena rencananya itu adalah malam terakhir saya di Bali. Eileen dengan rekan-rekannya baru kembali ke Malaysia hari Minggu, sedangkan saya rencananya kembali ke Jakarta hari Jumat pagi. Eileen bilang boleh, tapi sekitar setengah jam lagi karena dia mau mandi dulu.

Saya pun kembali ke kamar, mandi dan menunggu dengan tidak sabar. Sekitar jam 10:30 malam, saya ke kamar Eileen. Waktu itu Eileen baru selesai mandi dan rambutnya masih basah. Dia mengenakan baju kaos putih yang panjangnya sepaha dan tidak mengenakan celana pendek lagi. Eileen mempersilakan saya duduk di tempat tidur dan dia lalu ke kamar mandi untuk mengeringkan rambutnya.

Dari tempat tidur saya dapat melihat dia di kamar mandi, dan malam itu Eileen terlihat sangat cantik. Saya tidak tahan lagi, dan kemudian bangun mendekati dia di kamar mandi.
Saya peluk dia dari belakang dan Eileen berkata, “Wait honey, let me finish first. After I’m done I’ll give you a night that you won’t forget”.
Saya pun kembali ke kamar dan duduk di tepi ranjang. Setelah selesai Eileen keluar dan berdiri di depan pintu kamar mandi. Karena baju kaosnya cukup tipis, lekuk badan Eileen terlihat jelas, dan saya tahu kalau dia tidak mengenakan bra di balik baju kaosnya. Putingnya samar-samar terlihat di balik baju kaosnya yang tipis.

Saya berdiri dan segera menciumnya dengan penuh nafsu. Ternyata dia juga memberikan reaksi yang sama, dan kemudian saya menggendong dia ke ranjang.
“Have you done it before..?” tanya saya.
“No, I haven’t. My boyfriend asked for it many times, but I always told him to wait until we’re married..” katanya.
Dia terdiam sejenak dan kemudian berkata, “But I think I want to do it with you tonight..”
Wow, sebuah kalimat yang membuat saya serasa ‘melayang’.

Eileen menyuruh saya tiduran, dan dia mulai melepaskan baju kaos dan celana pendek yang saya kenakan. Saya coba untuk membuka baju kaosnya, tapi dia minta saya untuk tunggu dulu.
“Not that fast, honey..” katanya.
Eileen kemudian menciumi saya dengan penuh nafsu, dan tangannya dimasukkan ke dalam celana dalam saya, dan mulai memainkan kemaluan saya. Saya sudah sangat terangsang dan segera membalikkan tubuhnya sehingga posisi saya sekarang di atas.


Saya lepas baju kaosnya, dan di depan saya terpampang pemandangan yang sangat indah. Eileen yang telentang dan hanya mengenakan celana dalam putih transparan terlihat begitu menantang. Bulu kemaluannya yang lebat terlihat dengan cukup jelas di balik celana dalamnya. Buah dadanya sangat indah dengan puting yang berwarna coklat kemerahan, sangat kontras dengan tubuhnya yang putih mulus. Saya menjilati putingnya dan Eileen terlihat begitu menikmati.

“Take off your underwear please..!” katanya.
Saya lepas celana dalam saya, dan Eileen kemudian memandangi kemaluan saya yang sudah sangat terangsang. Dia meminta saya tiduran dan kemudian mulai menjilati tubuh saya dari atas sampai kemaluan saya. Sungguh luar biasa, dan Eileen ternyata cukup ahli dalam melakukan oral seks. Pasti dia sering melakukannya dengan pacarnya, pikir saya.

Saya minta dia berubah posisi, sehingga kemaluannya sekarang persis di atas kepala saya. Saya sengaja tidak melepaskan dulu celana dalamnya karena saya ingin menikmati keindahan ini perlahan-lahan. Saya jilati selangkangannya dan sekali-sekali menyibakkan celana dalamnya, sehingga kemaluannya yang ditumbuhi bulu lebat itu terlihat. Kemaluan Eileen sangat harum karena dia baru saja selesai mandi dan memang kelihatan kalau Eileen orangnya sangat bersih. Beberapa menit kemudian dia berdiri dan melepaskan celana dalamnya. Di depan saya adalah pemandangan yang sangat indah, belum pernah saya melihat wanita secantik Eileen tanpa busana di hadapan saya.

“Let’s do it, now Honey.. I’m so turn on..” pintanya.
Eileen pun kemudian merebahkan diri dan membuka kedua pahanya lebar-lebar. Saya jilati selangkangannya dan kemaluannya.
“Ah.. ah.. come on.. do it now, I can’t stand it anymore..”
Saya tidak menghiraukan dia dan kemudian menyibakkan rambut kemaluannya dan mulai menjilati klitorisnya.
“Ah.. please.. please.., do it now.. please..!” pintanya.
Saya terus jilati klitorisnya, dan suara erangannya menjadi semakin keras tanda kalau Eileen sudah sangat terangsang.

Sebelum Eileen mencapai puncaknya, saya tarik badan Eileen ke sisi tempat tidur. Kakinya dibuka dengan lebar dan saya mencoba untuk memasukkan kemaluan saya ke vaginanya. Walaupun Eileen sudah sangat basah karena terangsang, ternyata kemaluan saya tidak mudah untuk masuk, karena dia belum pernah melakukan ini sebelumnya.
“Honey.. slowly please.. it’s painful..”
Senti demi senti saya masukkan kemaluan saya sampai akhirnya masuk dengan penuh.
“Oh.. it feels good.. can you move your body now..?” katanya.
Saya pun mulai menggerakkan pinggul, dan dari kemaluannya saya lihat sedikit darah keluar tanda kalau dia memang masih perawan.

“Yes.. yes.. I like it.., faster please.. faster..!” katanya.
Beberapa menit kemudian saya minta dia untuk merubah posisi, dan kami melakukan doggy style. Ternyata Eileen sangat menikmati posisi ini, apalagi posisi ini juga memudahkan saya untuk memegang buah dadanya yang lumayan besar dari belakang.
Selang beberapa saat, Eileen mengeluarkan teriakan keras, “Ah.. ah.. I’m coming Honey.. I’m coming..”
Saya tahu kalau Eileen sudah orgasme, dan saya pun terus mempercepat gerakan sampai akhirnya saya juga orgasme. Tentunya saya tidak ejakulasi di dalam vaginanya, karena saya tidak mengenakan kondom, dan saya tidak mau dia sampai hamil.

Setelah itu kami berdua ke kamar mandi dan mencuci bersih tubuh kami yang penuh dengan keringat dan juga sedikit darah Eileen. Selesai mandi kami berendam di bathup sambil berpelukan. Sungguh nikmat rasanya. Malam itu kami tidak tidur sama sekali dan kami berhubungan lagi 2 kali sampai pagi.

Pagi harinya Eileen meminta saya untuk tidak kembali ke Jakarta hari itu dan menemani dia di Bali sampai hari Minggu. 2 hari berikutnya saya habiskan waktu berkeliling Bali dengan Eileen dan teman-temannya. Sayang sekali saya tidak dapat terus berduaan dengan Eileen karena dari sebelumnya dia sudah janji dengan teman-temannya untuk liburan di Bali setelah acara kantor selesai. Baru malam harinya kami bisa menikmati waktu berdua dan waktu itu terasa amat singkat dan hari Minggu pagi Eileen sudah harus kembali ke Malaysia dan saya ke Jakarta. Sebelum berpisah kami berjanji untuk tetap akan saling berhubungan melalui telpon dan e-mail dan berharap kami dapat melanjutkan hubungan kami.

Kami pun terus berhubungan melalui telpon dan e-mail sampai sekitar satu setengah bulan kemudian saya menerima e-mail yang sangat mengejutkan. Eileen meminta saya untuk berhenti menelpon dan menulis e-mail ke dia, karena pacarnya sudah mengetahui affair dia dengan saya, dan dia lebih memilih pacarnya karena beberapa alasan yang terus terang, sangat berat untuk saya terima.

Susah sekali untuk menerima kenyataan itu, dan saya masih terus mengirim e-mail ke dia. Tidak ada satu pun e-mail saya yang dibalas, sampai akhirnya saya sadar bahwa mungkin Eileen memang bukan milik saya. Mungkin suatu hari saya akan mendapatkan seseorang yang dapat memberikan kebahagiaan dan kesenangan seperti yang telah diberikan Eileen kepada saya.


Friday, February 1, 2019

Cerita Sex : Anak Smp Doyan Isep Kontol


Bandar Judi : Kisah ini terjadi saat aq masih duduk di kelas SMP. Di kelasku ada cewek namanya Susi, anak ini memang terkenal genit. Padahal sebenarnya orangnya biasa2 aja gak terlalu istimewa tapi karena sifatnya yang ramah dan gampangan itu yang membuat dia banyak dikerubutin teman2 cowok termasuk aq. Diantara sekian banyak cowok ada satu yang paling getol dekat2 ma Susi, namanya Rudi.

Setiap kali aq melihat Rudi mendekati Susi maka tangannya gk jauh2 dari meraba pantat atau toked Susi. Pernah suatu ketika saat pelajaran Kesenian, Susi yang duduk sendirian karena teman satu mejanya tidak datang pindah tempat duduk ke tempat Rudi yang memang duduk sendirian dibarisan paling belakang sudut, bersebelahan dengan mejaku.

Mulanya aq gk terlalu pedulian, paling juga si Rudi ngucek2 payudaranya si Susi. Tapi saat aq ngelirik, aq kaget setengah mati. Kontol si Rudi udah keluar dari celananya dan sedang dikocok2 ma Susi! Rudi menyeringai bangga melihat ke arahku. Sementara Susi hanya tersenyum2 genit aja melihat aq yang terpelongo.

Sambil menikmati kocokan Susi tangan kiri Rudi asik meremas2 payudara kanan Susi, untuk menutupi pandangan guru dari depan Rudi sengaja menaruh buku bacaan kesenian di depan Susi dengan cara di dirikan jadi seolah2 mereka berdua sedang membaca buku itu.
Beberapa menit kemudian kulihat peju Rudi menyembur keluar, Susi kemudian mengelap tangannya yg belepotan peju Rudi ke celana Rudi. Meilhat itu aq juga jadi kepingin. Aq segera memberi kode sama Rudi untuk gantian, kamipun berganti posisi.

Si, aq juga donk.. pintaku setelah duduk di sampingnya,
Paan? tanyanya pura2 gk tau. Kocokin kontol aq ujarku, Susi mencibir kearahku, Gak mau tolaknya. Bangsatnya ni pikirku, gk tau orang dah konak juga. Sementara di meja sebelahku, si Rudi cekikikan melihatku, teman semejaku juga ngintip2 sambil tersenyum2 mupeng. Pasti mintak bagian juga tuh.
Karena udah gk tahan menahan birahi, sambil melihat kedepan pelan2 aq menurunkan resleting celanaku, tapi susah juga ngeluarin si kontol yang udah jegang dari tadi dalam posisi duduk gini. Ku longgarkan sedikit ikat pinggangku dan ku lepaskan kait kancing celanaku baru kurogoh kontolku mengeluarkannya, begitu kontolku keluar dari celana langsung keraih tangan kanan Susi, ku arahkan ke batang kontolku.



kocokla cepat.. bisikku, tangan Susi yang lembut dan halus kemudian memegang batang kontolku dan mulai mengocok2nya membuat aq tertunduk keenakan.
enak ya..? bisik Susi, anjeng, enak kali balasku berbisik. Berkali2 aq mengeluarkan nafas keras saat kulit tangan Susi yang lembut menggesek2 kepala kontolku.
Sesekali aq melirik ke arah Rudi dan temanku yg tertawa2 kecil melihat aq lagi dikocokin ma Susi, teman semejaku berkali2 memberi kode mintak giliran yang dibalas dengan Susi leletan lidahnya. Asli mupeng dia, terlebih lagi saat aq dengan sengaja meremas2 payudara Susi sambil melirik mengejek ke temanku itu.
Beberapa menit kemudian pejuku akhirnya muncrat keluar disertai rasa nikmat tiada tara, sebisa mungkin aq menahan untuk tidak mengerang. Kututupi wajahku dengan kedua tanganku menahankan rasa nikmat di kontolku.

Susi mengangkat tangannya menunjukkan jari2 tangannya yang belepotan pejuku, wajahnya menunjukkan ekspresi jijik. Kemudian seperti tadi dia mengelapkan tangannya ke celanaku.
Karena merasa masih ada bau2 pejunya, Susi permisi ke wc. Gk lama teman sebangkuku ikut permisi keluar. Aq kembali pindah ke mejaku sementara Rudi duduk di bangku sebelahku.
Tapi ko lama kali ya..?? jangan2 mereka maen di wc terka Rudi. Aq manggut2 mengiyakan. Ampe pergantian jam pelajaran (kira2 15 menit lebih) baru mereka kembali, ku lihat teman aq itu tersenyum bahagia. Sementara Susi kembali ke bangkunya, bukan di tempat Rudi lagi.

Langsung kucecar teman ku dengan pertanyaan2, ngapain aja kalian? Temanku cerita begitu dikamar mandi, dia langsung meluk Susi. Sambil berciuman temanku meremas2 payudara Susi lalu dia meminta Susi untuk menghisap kontolnya, Susi okok aja menghisap kontol temanku itu, lagi pula biasanya kamar mandi pas jam pelajaran masih berlangsung memang tergolong sepi kuadrat.
Eh pas lagi asik2an begitu tiba2 masuk cowok dari kelas sebelah, udah bisa ketebak cowok itupun mintak bagian. Terpaksa Susi ngelayani dua kontol sekaligus. Sepikan bukan berarti gk ada yang datang, beberapa menit kemudian datang dua orang cowok, anak kelas 2. melihat Susi yang lagi jongkok sambil ngisapin kontol kami, mereka pun dengan sabar ngantri mintak disepong juga.
Setelah semua ngecrot baru Susi dan teman aq itu kembali ke kelas. Aq jadi geleng2 mendengar cerita teman aq itu, jontor deh tuh bibir nyepong 4 batang sekaligus.